AS-Iran Perang Lagi, Ledakan Guncang Pulau Qeshm Selat Hormuz

Selasa, 03 November 2026 | 12:47 WIB
Pulau Qeshm (Al Jazeera)
BACA 10 DETIK
  • Amerika Serikat melancarkan serangan defensif ke target militer Iran di Selat Hormuz.

  • Serangan terjadi di tengah proses diplomasi dan menjelang Pemilihan Umum Sela Amerika Serikat.

  • Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz jika Amerika Serikat menghentikan permusuhan dan mengangkat blokade.

Suara.com - Serangan udara militer Amerika Serikat baru saja menghantam kawasan Selat Hormuz setelah jet tempurnya ditembaki pasukan Iran, Selasa (3/11/2026). Rentetan ledakan keras mengguncang Pulau Qeshm serta kota pelabuhan Bandar Lengeh di pesisir selatan Iran.

Dikutip dari Al Jazeera, dua jet tempur terlihat melintas di atas Pulau Qeshm bertepatan dengan beruntunnya ledakan di kawasan strategis tersebut. Langkah militer ini diambil Washington sebagai bentuk respons atas aksi penembakan rudal darat-ke-udara oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran.

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan gempuran ini bersifat defensif guna melindungi armada penerbangan dan jalur pelayaran komersial. Operasi sengaja digelar secara terbatas agar tidak memicu eskalasi perang terbuka di kawasan Timur Tengah.

Aksi saling serang ini terjadi hanya beberapa jam setelah Garda Revolusi Iran mengklaim telah melumpuhkan tiga drone canggih milik AS. Pasukan teheran mengerahkan sistem perang elektronik untuk menguasai dua drone pengintai serta menjatuhkan satu unit MQ-9.

Eskalasi militer ini meletus di tengah tenggat waktu krusial menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Sela di Amerika Serikat. Momen ini sekaligus menguji stabilitas politik Partai Republik yang sedang berjuang mempertahankan kursi mayoritas di parlemen.

Upaya negosiasi damai sebenarnya terus diupayakan kedua negara sebelum insiden penembakan di Selat Hormuz terjadi. Presiden Donald Trump sempat menyiratkan optimisme bahwa kesepakatan damai dengan pihak Teheran dapat tercapai dalam waktu dekat.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menyebut harga minyak dunia langsung merosot drastis akibat rumor pembatalan perang.

"Harga Minyak anjlok seperti batu, turun hampir $10 per Barel, sebuah rekor, karena orang-orang merasa bahwa tidak akan ada perang dengan Iran," tulisnya di platform Truth Social.

Trump juga menegaskan bahwa pihak Teheran menginginkan penyelesaian konflik secara cepat melalui jalur diplomasinya.

"Iran menginginkan penyelesaian secepat mungkin. Itu bisa saja terjadi!" lanjut tulisan tersebut.

Wakil Presiden JD Vance juga membenarkan adanya sinyal positif dari serangkaian dialog rahasia yang telah dibangun. Diskusi tersebut melibatkan komunikasi langsung dengan Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei terkait skema perdamaian.

“Kami telah melakukan sejumlah pembicaraan baik dengan pihak Iran,” ujar JD Vance saat memberikan keterangan kepada media. Ia menambahkan bahwa Gedung Putih merasa optimis dengan prospek negosiasi tersebut.

"Presiden dan saya sama-sama merasa cukup baik mengenai prospek kemungkinan tercapainya penyelesaian melalui negosiasi. Kami akan terus berupaya mencapainya."

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa syarat pelonggaran blokade telah disampaikan secara terbuka kepada pemerintah Washington. Teheran siap membuka kembali Selat Hormuz dalam kurun waktu dua hari jika seluruh persyaratan utama mereka dipenuhi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa keputusan akhir kini berada sepenuhnya di tangan pemerintah Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa pihak Teheran sudah menyerahkan proposal perdamaian secara rinci dan mendesak perhentian seluruh aksi permusuhan.

Selat Hormuz merupakan jalur perairan paling krusial di dunia yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar global. Ketegangan di kawasan ini meningkat tajam akibat sengketa navigasi pelayaran serta penempatan persenjataan militer kedua negara.

Sebelum gempuran terbaru ini meletus, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan terus mendesak Washington untuk melancarkan serangan balasan lanjutan. Tekanan diplomatik dari Tel Aviv tersebut berpotensi mengacaukan skema gencatan senjata yang sedang dirancang oleh Gedung Putih.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com