- Pemerintah ingin pengolahan SDA menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, Contohnya, hilirisasi nikel harus berlanjut dari produk olahan menuju manufaktur baterai dan kendaraan listrik.
- SBIN mendorong peningkatan kualitas bahan baku, pengembangan pemasok lokal, reformasi TKDN, serta kemitraan IKM dengan industri besar untuk memperkuat industri nasional.
- SBIN diluncurkan pada akhir 2025 saat Agus Gumiwang Kartasasmita menjabat Menteri Perindustrian. Sarmuji menyatakan pemerintah akan meneruskan dan memperkuat fondasi industrialisasi yang telah dibangun sebelumnya.
Suara.com - Pemerintah mendorong pendalaman hilirisasi sumber daya alam (SDA) agar tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi. Melalui Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN), pemerintah ingin membangun rantai industri yang lebih lengkap hingga menghasilkan produk jadi bernilai tambah tinggi.
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur industri nasional di tengah perubahan ekonomi dunia, ketegangan geopolitik, serta penataan ulang rantai pasok global.
Dalam kerangka SBIN, pengolahan sumber daya alam perlu terhubung dengan industri manufaktur lanjutan, penguasaan teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, hingga penguatan pemasok domestik. Dengan demikian, kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan baku atau produk antara, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan industri yang lebih kompetitif.
Strategi Baru Industrialisasi Nasional sendiri diluncurkan pada akhir 2025 oleh Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) saat menjabat Menteri Perindustrian. AGK menekankan perlunya pembaruan strategi industrialisasi untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan global dan kebutuhan dalam negeri.
"Ini bukan sekadar kelanjutan kebijakan masa lalu, melainkan pembaharuan yang disesuaikan dengan realitas global dan kebutuhan domestik," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita seperti dikutip, Jumat (6/10/2026).
Salah satu contoh pendalaman hilirisasi yang menjadi perhatian dalam SBIN adalah pengembangan industri berbasis nikel. Pengolahan nikel tidak cukup hanya menghasilkan produk olahan, tetapi perlu dilanjutkan hingga manufaktur baterai dan kendaraan listrik. Dengan cara tersebut, rantai produksi diharapkan semakin panjang dan menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri.
SBIN juga mendorong pembangunan industri antara yang dapat menghubungkan berbagai sektor, seperti industri bahan kimia, komponen elektronik, dan permesinan. Selain investasi pada fasilitas produksi, pemerintah menekankan pentingnya membawa hasil riset ke lini industri melalui kerja sama perusahaan dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi.
Modernisasi proses produksi juga menjadi bagian dari strategi tersebut, antara lain melalui penerapan otomasi, internet of things (IoT), dan kecerdasan buatan (AI).
Untuk mendukung pengembangan industri lanjutan, SBIN turut menyoroti kebutuhan pembiayaan investasi jangka panjang, baik untuk peningkatan skala teknologi, pengadaan mesin, fasilitas produksi, maupun pengembangan prototipe. Pendalaman hilirisasi juga membutuhkan keterhubungan yang kuat antara industri hulu dan hilir. Pemerintah ingin memperkuat rantai pasok domestik agar kebutuhan bahan baku, komponen, dan teknologi pendukung dapat semakin dipenuhi dari dalam negeri.
Melalui SBIN, pemerintah mendorong pemetaan rantai pasok lintas sektor untuk mengidentifikasi kekurangan kapasitas produksi dan hambatan pasokan. Selain itu, penguatan ekosistem pemasok domestik dilakukan melalui peningkatan produksi dan kualitas bahan baku, penyediaan bahan kimia pendukung, serta pengembangan fasilitas penyimpanan dan logistik.
Pemerintah juga mendorong kemitraan antara pemasok dan industri pengolahan agar kebutuhan produksi dapat diselaraskan. Penguatan penggunaan produk dalam negeri turut dilakukan melalui reformasi kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), modernisasi teknologi pemasok, serta kemitraan industri kecil dan menengah (IKM) dengan perusahaan besar.
Di sisi lain, pengembangan produk hilir diarahkan untuk memperluas pemanfaatan komoditas ke berbagai sektor industri. Sebagai contoh, produk oleokimia berbasis sawit dapat dimanfaatkan untuk memasok kebutuhan industri kosmetik, deterjen, polimer, hingga tekstil.
Strategi Baru Industrialisasi Nasional juga dirancang untuk mengatasi fragmentasi kebijakan dan ego sektoral dalam pembangunan ekonomi. Melalui pendekatan integratif, pengembangan industri tidak lagi hanya dilakukan berdasarkan sektor masing-masing, tetapi dengan memperhatikan keterhubungan rantai pasok dari hulu hingga hilir.
Sebagai contoh, peningkatan produksi pertanian perlu terhubung dengan industri agro, industri kimia dan pupuk, industri alat dan mesin pertanian, transportasi, pengemasan, hingga jasa logistik. Integrasi tersebut juga mencakup penyelarasan kebijakan industri dengan sektor pendidikan, penelitian, energi, infrastruktur, pembiayaan, dan pembangunan wilayah.
SBIN memuat delapan elemen utama, yakni ketahanan ekonomi, kemandirian, penciptaan lapangan kerja, pembangunan sumber daya manusia dan teknologi, hilirisasi, pemerataan ekonomi melalui industri rakyat dan IKM, reformasi regulasi, serta pengembangan industri hijau dan biru.
Dalam perkembangannya, Menteri Perindustrian saat ini, Sarmuji, menegaskan pemerintah akan melanjutkan fondasi industrialisasi yang telah dibangun sebelumnya.
"Apa yang sudah dirintis oleh Pak Agus Gumiwang sebagai Menteri tentu harus kita lanjutkan. Kita akan teruskan apa-apa yang sudah dicapai dan apa yang sudah diletakkan akan kita perkuat kembali," kata Sarmuji.