Siasat Inalum Atasi Biaya Produksi Alumium yang Tinggi

Jum'at, 06 November 2026 | 19:14 WIB
Ilustrasi pabrik aluminium milik Inalum. [ist].
BACA 10 DETIK
  • Direktur Utama INALUM Melati Sarnita menyatakan perseroan mengembangkan teknologi peleburan dan AI di Sentul pada 6 November 2026.
  • Upaya efisiensi dan inovasi tersebut dilakukan INALUM untuk mengatasi tingginya biaya produksi serta permasalahan keretakan anoda.
  • Rangkaian inovasi perusahaan dihimpun melalui kegiatan Transformation and Improvement Summit 2026 yang diikuti 273 inovator.

Suara.com - PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM melakukan siasat di tengah tingginya biaya produksi. Salah satunya, mengembangkan teknologi peleburan agar kinerja perusahaan lebih efisien, tertama optimalisasi parameter bath dalam proses peleburan. 

Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, menjelaskan, selain teknologi itu, peseroan juga mengembangkan optimalisasi sudut eccentric counterweight untuk mengatasi permasalahan keretakan anoda.

Anoda merupakan salah satu komponen penting dalam proses produksi aluminium sehingga kondisinya turut menjadi perhatian dalam upaya menjaga kelancaran operasional.

Pengembangan inovasi juga dilakukan di luar area produksi. Perusahaan mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk pemodelan keuangan serta mengembangkan gagasan di bidang energi dan keberlanjutan.

Inalum

"Keberhasilan inovasi yang sesungguhnya bukan ketika sebuah karya memenangkan kompetisi, tetapi ketika karya tersebut memberikan manfaat yang berkelanjutan," ujar Melati di Sentul, Bogor, Jumat (6/11/2026).

Berbagai inovasi tersebut menjadi bagian dari kegiatan Transformation & Improvement Summit (TIS) 2026 yang menghimpun 119 karya dari 273 inovator di lingkungan INALUM Group. Jumlah tersebut meningkat sekitar 63 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, INALUM memperluas kategori kompetisi dari dua menjadi empat, yakni Teknis Implementasi, Teknis Konseptual, Nonteknis, serta HSE & ESG.

Dari total 119 karya yang mengikuti penjurian, sebanyak 39 karya berasal dari kategori Teknis Implementasi, 40 karya Teknis Konseptual, 13 karya Nonteknis, serta 27 karya HSE & ESG.

Melati menganggap ide dan inovasi seharusnya tak hanya sekadar menjadi wacana lalu menghilang tanpa adanya tindakan.

"Jangan sampai ide terbaik kita hanya tersimpan sebagai dokumen," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com