Siap-siap, Harga Pangan Melonjak di Awal 2027 Karena Rupiah Semakin Tak Berharga

Jum'at, 06 November 2026 | 17:59 WIB
Harga produk makanan dan minuman berpotensi naik 5-6 persen pada awal 2027 di Indonesia. Dipicu melemahnya rupiah. [Anta
BACA 10 DETIK
  • Harga produk makanan dan minuman berpotensi naik 5-6 persen pada awal 2027 di Indonesia.
  • Kenaikan tersebut dipicu oleh tekanan biaya produksi akibat pelemahan rupiah, tingginya ketergantungan bahan baku impor, serta lonjakan biaya logistik pengiriman internasional.
  • Dampak kenaikan biaya ini membuat perusahaan menahan harga atau mengurangi ukuran produk. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan menjaga stabilitas nilai tukar.

Suara.com - Harga produk makanan dan minuman berpotensi mengalami kenaikan sekitar 5-6 persen pada awal 2027. Kenaikan ini dipicu tekanan biaya produksi, terutama akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan masih tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku impor.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan, sejumlah perusahaan menengah dan besar masih memiliki persediaan bahan baku maupun produk jadi sehingga belum langsung menaikkan harga jual.

Selain itu, sebagian perusahaan juga masih terikat kontrak pembelian bahan baku dengan harga sebelumnya. Namun, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama sehingga penyesuaian harga kemungkinan dilakukan pada awal tahun depan.

"Kalau saya lihat, ini kan sudah menjelang akhir tahun ya. Kalau perusahaan menengah-besar punya daya tahan industri yang lumayan cukup ya, sehingga kita ada yang masih kontrak lama, ada yang masih punya stok bahan baku, stok produk jadi, sehingga kita masih mungkin (menahan harga jual) yang perusahaan menengah-besar," kata Adhi di Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/11/2026).

Menurutnya, kenaikan harga di kisaran 5 sampai 6 persen sudah cukup tinggi mengingat konsumen produk makanan dan minuman cukup sensitif terhadap perubahan harga.

"Rata-rata kalau saya lihat industri mamin tuh average sekitar 5 sampai 6 persen, lah. Itu pun sudah cukup tinggi gitu ya, karena price sensitive," ujarnya.

Adhi menjelaskan, tekanan biaya produksi tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi juga semakin berat bagi industri kecil dan menengah (IKM). Berbeda dengan perusahaan besar yang memiliki persediaan bahan baku lebih banyak, sejumlah pelaku usaha kecil hanya memiliki stok untuk memenuhi kebutuhan produksi selama satu hingga dua hari.

Kondisi tersebut membuat IKM lebih rentan ketika terjadi kenaikan harga bahan baku. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran produk agar biaya produksi tetap terkendali.

Ia mencontohkan produk tempe yang mulai mengalami pengurangan ukuran karena pelaku usaha harus menyesuaikan harga dengan daya beli masyarakat.

"Sehingga mereka mau tidak mau kalau enggak naik harga ya mengurangi ukuran gitu ya. Apalagi teman-teman kita yang di industri tempe misalnya ya. Kalau dulu beli tempe besar, sekarang mulai kecil gitu ya, karena daya beli gitu ya," ucapnya.

Karena itu, GAPMMI berharap pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dapat menjaga stabilitas nilai tukar agar pelaku industri memiliki kepastian dalam menjalankan kegiatan usaha.

Selain bahan baku, kenaikan biaya logistik juga menjadi masalah bagi industri makanan dan minuman. Adhi mengungkapkan ongkos pengiriman kontainer ke sejumlah negara mengalami lonjakan cukup besar dibandingkan kondisi sebelumnya.

Biaya pengiriman ke Australia, misalnya, yang sebelumnya sekitar 1.000 dolar AS per kontainer kini meningkat menjadi 3.000 dolar AS. Sementara itu, ongkos pengiriman ke China naik dari sekitar 200-300 dolar AS menjadi 700-800 dolar AS

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com