Sedih, Gen Z Tunda Nikah Karena Gaji Tak Kunjung Naik

Sabtu, 07 November 2026 | 14:02 WIB
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet. [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • CORE Indonesia menyatakan satu dari dua Gen Z menunda keputusan besar seperti menikah akibat upah stagnan sejak 2018.
  • Tingkat pengangguran kelompok usia 15 hingga 24 tahun di Indonesia mencapai 17,37 persen.
  • World Economic Forum mencatat ada 78 juta pekerjaan baru global hingga 2030 yang didukung ekonomi digital.

Suara.com - Anak-anak muda dari Gen Z menunda banyak keputusan besar dalam hidupnya, termasuk menikah, karena kondisi finansial yang tertekan akibat upah yang tak cukup.

Strategic Research Manager CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan 50 persen Gen Z kini menunda mengambil keputusan besar dalam hidup karena kondisi upah dan penghasilan yang stagnan sejak 2018 lalu.

"Satu dari dua Gen Z dan milenial saat ini terpaksa menunda keputusan-keputusan besar dalam hidup mereka, seperti menikah atau membeli rumah," kata Rendy dalam acara Youth Economic Summit (YES) 2026 yang digelar Suara.com dan CORE Indonesia di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).

Rendy mengungkapkan saat ini anak muda, termasuk Gen Z adalah yang paling tertekan di pasar tenaga kerja nasional.

Ia menunjukkan tingkat pengangguran terbuka nasional di kelompok usia  15 - 24 tahun kini mencapai 17,37 persen, atau sekitar 3,2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan angka pengangguran umum.

Tapi tantangan bagi pekerja muda tidak berhenti pada sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai. Bagi mereka yang telah terserap di pasar kerja, stagnasi upah menjadi masalah krusial berikutnya.

Meskipun secara nominal terjadi kenaikan upah, upah riil pekerja saat ini tidak bergerak jauh dibandingkan kondisi pada tahun 2018. Kenaikan upah dinilai gagal mengimbangi lonjakan biaya hidup dan gaya hidup (seperti hiburan/konser).

Kondisi finansial yang terhimpit ini memaksa pekerja muda mencari penghasilan tambahan (side hustle). Data mencatat bahwa 53 persen pelaku side hustle saat ini berasal dari kelompok kelas menengah.

"Pekerja 9 to 5 pada akhirnya harus mengambil pekerjaan tambahan karena masalah upah," tambah Rendy.

Lebih lanjut Rendy menguraikan sekitar 35 persen angkatan kerja muda saat ini tidak bekerja sesuai dengan tingkat pendidikannya. Hal ini memicu fenomena overeducated (lulusan pendidikan tinggi bekerja di sektor yang tidak membutuhkan keahlian tinggi) dan undereducated (pekerjaan yang menuntut keahlian tinggi namun diisi oleh SDM yang belum mencapai standar tersebut).

Meski dihadapkan pada realita yang menantang, Rendy menegaskan bahwa peluang di masa depan tetap terbuka lebar. Mengutip laporan World Economic Forum (WEF), akan ada sekitar 78 juta pekerjaan baru yang tercipta secara global hingga tahun 2030.

Penetrasi internet dan adopsi teknologi yang cepat di Indonesia membuka jalan bagi gig economy dan sektor ekonomi digital untuk terus berkembang. Sektor-sektor ini tidak hanya menjadi katup pengaman melalui penyediaan side job, tetapi juga berpotensi menjadi modal awal bagi anak muda untuk beradaptasi dengan kebutuhan keahlian di masa depan.

"Pemerintah memang menargetkan angka pengangguran turun di tahun depan, namun kualitas penurunannya pada kelompok usia muda harus terus kita kawal. Meskipun situasinya tampak gloomy, peluang dari ekonomi digital tetap ada dan harus kita kejar bersama dengan membenahi mismatch yang terjadi saat ini," tutup Yusuf.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com