- CORE Indonesia menyatakan upah riil pekerja Indonesia stagnan sejak tahun 2018 akibat biaya hidup yang naik.
- Yusuf Rendy Manilet menyampaikan data tersebut dalam Youth Economic Summit di Jakarta pada Sabtu, 7 November 2026.
- Pekerja muda bergaji rendah dan kelas menengah terpaksa mencari pekerjaan tambahan serta menunda keputusan finansial besar.
Suara.com - Ekonom dari CORE Indonesia menemukan kalau pertumbuhan ekonomi makro Indonesia yang berada di kisaran 5 persen rupanya masih menyimpan ironi struktural bagi para pekerja.
Narasi kenaikan gaji yang kerap digaungkan tiap tahun nyatanya sekadar ilusi nominal, karena daya beli pekerja kelas menengah faktanya tak beranjak dari posisi delapan tahun lalu.
Berdasarkan data yang dihimpun CORE Indonesia, rata-rata upah buruh secara nominal memang tercatat mengalami kenaikan hingga 24 persen sejak tahun 2018.
Namun ketika disesuaikan dengan inflasi, kurva upah riil justru mendatar alias stagnan dalam delapan tahun terakhir. Artinya, daya beli atau kemampuan finansial masyarakat kelas menengah saat ini sebenarnya tidak beranjak dan tetap setara dengan kondisi daya beli pada tahun 2018.
Strategic Research Manager CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengungkapkan bahwa kondisi ini memicu tekanan finansial yang masif di kalangan pekerja.
Menurutnya, kenaikan nominal gaji yang diterima pekerja setiap tahunnya langsung tergerus oleh laju kenaikan biaya hidup yang jauh lebih agresif.
"Upahnya memang secara nominal naik, tapi di saat yang bersamaan kenaikan biaya hidup relatif lebih tinggi. Makanya kalau dihitung berdasarkan upah riil, kondisinya tidak terlalu jauh berbeda dengan tahun-tahun ke belakang," ujar Yusuf dalam acara Youth Economic Summit (YES) 2026 di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Stagnasi upah riil ini rupanya memberikan pukulan finansial yang paling telak bagi angkatan kerja muda yang baru memasuki fase awal karier mereka. Data menunjukkan adanya ketimpangan pendapatan yang cukup dalam antargenerasi pekerja.
Saat ini, rata-rata upah untuk pekerja di kelompok usia 20-24 tahun hanya berada di kisaran Rp 2,67 juta. Angka tersebut tertinggal jauh dan berada di bawah rata-rata upah nasional yang saat ini bertengger di level Rp 3,3 juta.
Terhimpitnya daya beli akibat upah yang rendah di awal karier dan mandeknya pertumbuhan upah riil ini pada akhirnya menciptakan efek domino.
Pekerja usia muda dan kelas menengah kini harus memutar otak mencari arus kas tambahan melalui side hustle demi mengejar standar biaya hidup yang terus merangkak naik, sekaligus menunda berbagai keputusan krusial.
"Karena masalah upah ini tidak mengalami kenaikan yang sebanding, mau tidak mau teman-teman yang baru lulus harus cari penghasilan tambahan, side hustle gitu. Konsekuensinya, satu dari dua Gen Z dan milenial menunda keputusan besar karena masalah finansial, termasuk di dalamnya keputusan untuk menikah atau membeli rumah. Itu adalah konsekuensi dari permasalahan upah," tutup Yusuf.