- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan ekonomi Jakarta triwulan III 2026 tumbuh 5,87 persen.
- BPS mencatat inflasi Jakarta berada pada angka 2,52 persen dan menjadi yang terendah di Jawa-Bali.
- Jumlah penduduk miskin di Jakarta berkurang 6.500 orang serta indeks pembangunan meningkat menjadi 85,88.
Suara.com - Perekonomian Jakarta tumbuh 5,87 persen pada triwulan III 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,47 persen pada periode yang sama.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan capaian tersebut seusai rapat terbatas di Kantor Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (6/11/2026). Data itu merujuk pada laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).
Pramono menyebut pertumbuhan ekonomi Jakarta meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,52 persen.
"Ekonomi Jakarta di Q3 ini di 2026 tumbuh 5,87. Meningkat dari 5,52 dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,47," paparnya.
Menurut Pramono, capaian tersebut mencerminkan dampak strategi Pemprov DKI dalam mendorong aktivitas ekonomi melalui berbagai kegiatan dan penyelenggaraan acara di ibu kota.
"Ini mencerminkan bahwa apa yang kami lakukan, dengan yang saya sebut dengan epicenter of event, itu dampaknya terlihat, terpotret dari apa yang kemudian dirilis oleh BPS," lanjut Pramono.
Selain pertumbuhan ekonomi, Jakarta juga mencatat inflasi sebesar 2,52 persen.
Pramono menyebut angka tersebut sebagai yang terendah di kawasan Jawa-Bali, bahkan berpotensi menjadi yang terendah secara nasional.
"Inflasinya 2,52. Terendah di seluruh Jawa-Bali dan saya mendengar mungkin juga terendah di seluruh Indonesia," klaimnya.
Ia mengaitkan rendahnya inflasi dengan pemantauan harga kebutuhan pokok yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) secara langsung di lapangan.
Pramono mengakui pengendalian inflasi menjadi perhatian khusus karena Jakarta selama ini dinilai sensitif terhadap perubahan harga.
"Biasanya Jakarta itu untuk inflasinya paling sensitif. Tapi kali ini kami bisa pertahankan, kami jaga di angka 2,52," tutur Pramono.
Di sisi lain, indikator kesejahteraan warga Jakarta juga disebut menunjukkan perbaikan. Pramono mengatakan jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 6.500 orang.
"Indikator kesejahteraan menunjukkan juga perbaikan, dan itu terlihat dari jumlah penduduk miskin di Jakarta yang mengalami penurunan cukup signifikan. Kurang lebih 6.500 orang," kata Pramono.
Pramono turut menyampaikan peningkatan indeks pembangunan menjadi 85,88, dari sebelumnya 85,05.
Pemprov DKI berharap pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, dan perbaikan indikator kesejahteraan tersebut dapat terus terjaga hingga akhir 2026.