Ia lahir di pinggiran kota Marseille, Prancis pada 23 Juni 1972. Pria berdarah Aljazair ini tumbuh dan berkembang di salah satu distrik Marseille, La Castellane, tempat yang dikenal sebagai daerah dengan tingkat kriminilitas yang sangat tinggi dan rentan dengan resiko bunuh diri masyarakatnya.
Memiliki empat saudara, 3 laki-laki dan 1 perempuan dengan sang ayah bekerja shif sebagai penjaga toko dan ibu hanya seorang ibu rumah tangga membuat bocah ini harus berpikir ekstra keras demi bisa mengeluarkan keluarganya dari jerat kemiskinan. Sepak bola menjadi jalannya.
Sebagai keluarga imigran di Prancis, bocah laki-laki bernama tengah Yazid ini dipandang oleh rekan-rekan sebayanya sebagai sosok petarung dan tak pernah menyerah untuk meraih kesuksesan. Dikutip dari theguardian.com, ia sangat percaya sepakbola ialah jalannya untuk keluar dari kemiskinan.
Akhirnya pada 1981, bocah laki-laki ini bergabung ke klub amatir, Saint Henri Football. Selanjutnya, ia menapaki kariernya di Cannes. Ada yang menarik saat ia bergabung ke Cannes, sebagai anak imigran dirinya ternyata sudah sangat sensitif jika ada orang lain yang menghina latar belakangnya.
Dikutip dari as.com, pelatih Canes pernah membuatnya harus menjadi tukang bersih-bersih di ruang ganti diakibatkan dirinya memukul sang lawan karena menghina latar belakang keluarganya, peristiwa yang kemudian kelak ia kembali lakukan di pentas Piala Dunia.
Pada 18 Mei 1989, ia memulai debut profesionalnya di divisi 1 Liga Prancis saat Cannes bertemu Nantes. Penampilannya yang memukau bersama Cannes mendorong klub besar Prancis, Bordeaux merekrutnya pada 1992/93.
Lambat laun cita-citanya untuk mengeluarkan keluarga dari jerat kemiskinan tercapai. Sang ayah kemudian tak lagi bekerja sebagai penjaga toko setelah ia resmi bermain untuk Bordeaux.
Singkat cerita setelah mendapatkan penghargaan Ligue1 Player of the Year, ia kemudian hijrah ke Italia dan bergabung bersama Juventus.
Di klub berjuluk Nyonya Tua tersebut, dirinya dianggap sebagai sosok playmaker yang memiliki intelegensia cerdas dalam mengolah si kulit bundar dan menerjemahkan taktik pelatih.
Baca Juga: Dari David de Gea hingga Zidane Iqbal, Semua Jadi Korban Umpatan Erik ten Hag di Manchester United
Sejumlah gelar sukses ia persembahkan bersama Juventus, baik di tingkat lokal, Serie A ataupun Eropa seperti Liga Champions. Namanya semakin besar.
Setelah sukses persembahkan gelar scudetto keduanya bersama Juventus pada musim 1997/98, dirinya torehkan tintas emas bersama Timnas Prancis.
Di perhelatan Piala Dunia 1998, sebagai tuan rumah Prancis sukses meraih gelar pertamanya. Di babak final, bertemu dengan tim favorit juara, Brasil, Prancis menang 3-0, dua gol sukses dipersembahkan pria yang tinggal di daerah kumuh Prancis tersebut.
Kini dirinya tak lagi dianggap keluarga imigran yang hanya numpang tinggal di Prancis, dirinya kini sudah dianggap sebagai sosok pahlawan bagi masyarakat Prancis.
Sayang kemudian, tintas emas itu harus tercoreng di perhelatan Piala Dunia 2006, sebagai ajang terakhir dirinya bersama Timnas Prancis.
Seakan dejavu, kejadian saat kecil memukul lawannya karena menghina latar belakang keluarganya kembali terulang. Ia menanduk bek Italia, Marco Materazzi lawannya di final Piala Dunia 2006 karena menghina ibu dan saudara perempuannya. Meski sempat diperguncingkan karena melakukan tindakan seperti itu, ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya.
Berita Terkait
-
Diacuhkan PSG, Zinedine Zidane Tertarik Tangani Timnas Prancis
-
Bantah Dekati Zinedine Zidane, Nasser Al-Khelaifi: PSG Tak Pernah Bicara Dengannya
-
Zinedine Zidane Tolak Tawaran PSG untuk Latih Lionel Messi Cs
-
Santer Bakal Gantikan Pochettino di PSG, Agen Zinedine Zidane Buka Suara
-
Pihak Zinedine Zidane Bantah akan Latih PSG: Semua hanya Rumor
Terpopuler
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
-
1 Prajurit TNI di Lebanon Gugur Dibom Israel, 3 Lainnya Luka-luka
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
Terkini
-
3 Cara Mengunci Aplikasi di HP OPPO untuk Menjaga Privasi Data Anda
-
Fast Fashion Picu Limbah, Bisakah Cost Per Wear Jadi Solusi Belanja Lebih Bijak?
-
Waduh! 400 ASN Pemprov Sulsel Tidak Hadir Hari Pertama Kerja
-
4 Bintang Persija Bersinar Bersama Timnas Indonesia, Jordi Amat Bongkar Rahasianya
-
5 Resep Makanan Sehat untuk Menurunkan Berat Badan Setelah Lebaran, Tinggal Sat Set!
-
Intip Wanita Pemandu Kereta Odong-odong di Toilet, ABG 18 Tahun Ditangkap
-
Utak Atik Duel Laga Timnas Indonesia Vs Bulgaria, Ujian di Semua Lini
-
Kolaborasi Telkom dan AYS Indonesia Dorong Pemulihan Ekosistem Alam di Tarakan
-
Dari Lontar ke Ekonomi Kuat: Desa Hendrosari Tumbuh Pesat Berkat Program Desa BRILiaN
-
Pemerintah Klaim Mudik dan Arus Balik 2026 Berjalan Lancar