/
Rabu, 07 September 2022 | 00:29 WIB
Liga Super China

Sejumlah pemain Partizan di era itu seperti Predrag Spasic, Nebojša Vucicevic, hingga Sladan Scepovic mulai menaruh kepercayaan kepada dua pemain China ini.  Sebagai top skor Piala Asia 1984, Jia mampu beradapatasi dengan baik dan mampu mencetak sejumlah gol bersama Partizan. 

Ia dimainkan lebih banyak dibanding rekan senegaranya tersebut. Rasio penampilan Liu lebih moncer saat diturunkan di sejumlah pertandingan uji coba Partizan, sementara Jiu terus dimainkan dari periode Maret hingga Desember 1988, ia bermain sebanyak 16 kali. 

Bahkan jika Yugoslavia tidak bubar, salah satu gol Jia akan terus tercatat sebagai gol tercepat Liga Yugoslavia, ia mencetak gol 45 detik setelah kick off babak pertama. Yang awalnya dua pemain ini disepelekan, mulai mendapat tempat di penggemar Partizan. 

Pihak klub bahkan harus tegas saat dua pemain ini dipanggil Timnas China untuk berlaga di Olimpiade Seoul 1988, pasalnya di saat yang bersamaan Liga Yugoslavia memasuki musim baru. Setelah membantu China di ajang Olimpiade, keduanya kembali ke Beograd namun sayang di musim tersebu, prestasi Partizan melorot. 

Pada Januari 1989 menjadi akhir petualangan dua pemain ini di Partizan, pihak klub memutuskan untuk mengembalikan keduanya ke China, di saat yang bersamaan Timnas China juga tengah fokus untuk mengikuti kualifikasi Piala Dunia 1990. 

Semenjak petulangan Jiu dan Liu ke Yugoslavia, Liga Super China kemudian balik didatangi oleh banyak pemain dan pelatih dari kawasan Balkan. Bahkan diangkatnya Bora Milutinovic untuk menjadi pelatih Timnas China pada Piala Dunia 2002 juga tak lepas dari memori sejarah dua pemain tersebut.  

Artinya sebelum pemain top Eropa berduyun-duyun ke Liga Super China saat ini, para pemain dan pelatih dari negara bekas Yugoslavia sudah lebih dulu merasakan nikmatnya mata uang Yuan dan mendominasi Liga Super China. 

Load More