/
Rabu, 07 September 2022 | 00:29 WIB
Liga Super China

Liga Super China disebut-sebut sebagai salah satu liga di Asia yang mengguncang dunia. Kehadiran sejumlah pemain bintang yang pernah merumput di liga top Eropa jadi salah satu alasannya. 

Geliat sepakbola China memang tak main-main. Bukan sekedar mencari untung lewat liga dengan banyaknya pemain impor Eropa, federasi sepakbola China punya ambisi besar untuk membuat Negeri Tirai Bambu itu sebagai poros sepakbola di Asia, bahkan di dunia. 

Sebenarnya tak hanya Liga Super China yang bergeliat, tercatat ada 3 liga dari Asia lagi yang secara perkembangan bisa membuat banyak pihak terkagum-kagum, seperti Liga Qatar, Liga Uni Emirat Arab, dan Liga Uzbekistan. 

Ketiganya memiliki standar yang berbeda memang jika dibandingkan dengan Liga China yang begitu pesat kemajuannya, namun setidaknya menurut sejumlah analisis dan laporan FIFA, ketiga liga tersebut memiliki tingkat kemajuan yang cukup pesat. 

Kembali ke Liga Super China, perkembangan yang super cepat liga ini memang tak lepas dari peran pemerintah China dan para konglomerat mereka. 

Keduanya bersinergis hingga membuat sepakbola China berada di track semestinya, dari sisi prestasi tengah menanjak, sedangkan dari sisi industri tentu saja nilainya sempurna. 

Yang menarik, jika menilisik dari kajian sejarah soal perkembangan sepakbola China, ada fakta bahwa kemajuan sepakbola China saat ini tak bisa dilepaskan dari dua pesepakbola bernama Jia Xiuquan dan Liu Haiguang. Keduanya ialah pemain China pertama yang bermain di klub Eropa, tepatnya untuk Partizan Beograd pada 1987 hingga 1989. 

Sebelum 1987, tak ada pemain dari China yang berhasil menembus ke Eropa. Kedatangan Jia dan Liu ternyata bukan karena Partizan merekrutnya dari klub China, keduanya bermain di Beograd atas dasar program pertukaran budaya antar kedua negara tersebut. 

Berkat lobi politik dpemerintah China saat itu, Jia yang merupakan top skor Piala Asia 1984 dan Liu yang juga jadi bagian dari Timnas China di ajang tersebut mampu menembus kompetisi sepakbola Eropa. 

Baca Juga: Angelo Di Livio, Si Tentara Kecil yang Jadi Kesayangan Marcello Lippi

Dikutip dari wildeastfootball.net, padahal saat itu Partizan tengah berada di posisi cukup sulit. Pihak manajemen klub merasa tak membutuhkan pemain baru, ditambah pesepakbola dari Asia saat itu masih dianggap sebelah mata. 

Partizan di musim itu tengah bersaing ketat dengan rival sekotanya Red Star untuk bisa menjadi kampium Liga Yugoslavia

Artiya sudah sejak lama pemerintah China memiliki peran cukup besar untuk membuat sepakbola di sana menjadi lebih maju. Sejak kehadiran Jia dan Liu di Beograd menyusul sejumlah pesepakbola China lainnya untuk merumput di Eropa seperti pemain asal Kanton, Xie Yuxin yang dikontrak oleh klub Belanda, PEC Zwolle, serta Gu Guangming yang bermain untuk klub Liga Jerman, SV Darmstadt 98. 

Kesemua pemain tersebut diatas ialah alumnus skuat Timnas China di Piala Asia 1984, dimana China hanya mampu keluar sebagai runner up karena kalah 0-2 dari Arab Saudi di partai puncak yang berlangsung di Singapura, 16 Desember 1984. 

Lantas bagaimana perjalanan Jia dan Liu di Liga Yugoslavia bersama Partizan? Ternyata tak buruk-buruk amat, skill mereka masih mumpuni untuk bisa bertarung di kerasnya sepakbola Balkan. 

Meski memang di awal-awal kedatangannya, Jia dan Liu sempat terkendala gangguan non teknis seperti kendala bahasa, serta rindu rumah. Untuk kendala bahasa, pihak Partizan pada akhirnya sampai datang ke kedutaan China untuk mencari translator demi bisa berkomunikasi dengan dua pemain ini. 

Load More