Penyelenggaraan cabang sepakbola di ajang Olimpiade 1908 London, Inggris jadi latar belakang seorang Jules Rimet yang kala itu berstatus sebagai presiden FIFA untuk membuat event saingan ajang tersebut. 28 Juni 1928 saat Kongres FIFA di Amsterdam, Belanda, Rimet berhasil membujuk anggota FIFA saat itu untuk membuat kejuaraan sepakbola yang kelak kita kenal dengan nama Piala Dunia.
Rimet menilai event FIFA ini lebih bergengsi dibanding pertandingan sepakbola di Olimpiade. Rimet melihat celah bahwa pertandingan sepakbola di ajang Olimpiade diikuti oleh pemain bola berstatus amatir. Fakta sejarah memang menyebutkan bahwa Inggris saat memenangkan emas Olimpiade 1912 di Stockholm, Swedia diisi oleh pemain amatir.
Bahkan seperti dikutip dari bbc.com, Inggris malah mengirim tim amatir saat FIFA menyelenggarakan The First World Cup yang diikuti oleh Italia, Jerman, dan Swiss pada 1909. FIFA pun akhirnya pada 1914 memutuskan bahwa turnamen sepakbola yang ada di Olimpiade merupakan kejuaraan dunia sepakbola para pemain amatir.
Tahun awal Piala Dunia
Celah ini yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh Rimet untuk menghelat event yang bobotnya lebih bagus. Uruguay pun terpilih sebagai penyelenggara Piala Dunia pertama pada 1930. Sayangnya di event pertama ini banyak negara kuat sepakbola yang berasal dari Eropa ogah hadir. Alasannya tentu saja soal jarak.
Sejumlah negara berkeberatan untuk melalui perjalanan laut yang membutuhkan waktu sangat lama dan memakan biaya yang sangat mahal. Rimet lalu bergerak cepat, namun ia hanya bisa membujuk Belgia, Prancis, Rumania, dan Yugoslavia untuk hadir di Uruguay. Uruguay pun tak terbendung dan menjadi juara dunia pertama sekaligus jadi kado untuk hari kemerdekaan mereka.
Sejak pertama diselenggarakan, Piala Dunia sebenarnya sudah memiliki catatan hitam tersendiri. Tak seperti Olimpiade yang dikemas dengan cukup profesional, ajang Piala Dunia di tahun-tahun awal kelahirannya justru dibayangi dengan sejumlah masalah.
Pada Piala Dunia 1938 misalnya, Brasil dan Kubu mengeluarkan ancaman pemboikotan Piala Dunia. Suasana politik dunia yang memanas saat itu menjadi salah satu faktornya. Pada 1942 dan 1946 event Piala Dunia harus diberhentikan sejenak, Perang Dunia II jadi penyebabnya.
Usai Piala Dunia, Brasil ditunjukan sebagai tuan rumah Piala Dunia edisi ke-4. Sayangnya di event ini masalah politik kembali mencampuri. Inggris menolak untuk jadi peserta dengan alasan mereka tak mau melawan negara yang mereka jajah. Namun yang menarik dari event ke-4 ini, FIFA mulai mengeluarkan aturan ketat soal peserta.
Baca Juga: Jepang Panggil Sutho Machino Gantikan Yuta Nakayama untuk Piala Dunia 2022
Sejak edisi 1930-an hingga 1970-an, peserta Piala Dunia jumlahnya beragam. Alasan politik yang membuat banyak peserta yang kemudian gagal tampil. Piala Dunia sempat diikuti hanya 15 tim lalu 13 tim dan baru pada 1982, FIFA menetapkan aturan 24 tim yang ikut Piala Dunia dan baru diperluas menjadi 32 tim pada edisi Piala Dunia 1998.
Tumbal Nyawa dan Mafia Kerah Putih
Setelah lalui masa-masa non profesional di tahun awal kelahirannya, Piala Dunia kemudian mulai menyadarkan banyak orang bahwa event tersebut memang lebih menarik dibanding Olimpiade. Dunia seakan berhenti berputar saat penyelenggaraan Piala Dunia berlangsung.
Efeknya tentu saja banyak, mulai dari positif hingga negatif. Piala Dunia yang menjadi event bergengsi tentu saja berujung pada kapitalisasi dan uang, ujungnya bibit kejahatan pun mulai dilahirkan dari event ini. Mulai dari hilangnya trofi Piala Dunia versi Jules Rimet pada Piala Dunia 1966 hingga terlibatnya jaringan mafia.
Piala Dunia 1994 mungkin jadi catatan hitam besar di penyelenggaraan Piala Dunia, pasalnya di edisi ini Piala Dunia harus memakan tumbal nyawa. Dikutip dari fifa.com, bek Timnas Kolombia, Andres Escobar merenggang nyawa pasca melakukan gol bunuh diri saat timnya melawan Amerika Serikat.
Usut punya usut, Escobar dibunuh karena bos judi Kolombia harus kalah taruhan karena gol Escoba tersebut. Seperti disebutkan di awal keberhasilan event ini jadi event bergengsi mau tak mau memang menumbuhkan bibit kejahatan.
Berita Terkait
-
Jepang Panggil Sutho Machino Gantikan Yuta Nakayama untuk Piala Dunia 2022
-
26 Nama-nama Pemain Timnas Jepang di Piala Dunia Qatar 2022
-
Mantan Presiden FIFA: Pilih Qatar Sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022 adalah Kesalahan
-
Mulai Rp 160 Ribu Bisa Nonton Piala Dunia Langsung, Ini Harga Tiket Piala Dunia 2022 Qatar
-
Eks Presiden FIFA Kritik Qatar Tak Pantas Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022
Terpopuler
Pilihan
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
-
Sesaat Lagi! Link Live Streaming Persija vs Borneo FC, Jaminan Laga Seru di JIS
-
Kedubes AS Diserang, Cristiano Ronaldo Tinggalkan Arab Saudi
-
Bukan Cuma Bupati! KPK Masih Kejar Sosok Penting Lain Terkait OTT Pekalongan
Terkini
-
Bantah Cristiano Ronaldo Tinggalkan Riyadh, Al Nassr Bagikan Kabar Lebih Buruk
-
Warga Jakarta Wajib Tahu! Waktu Imsak Hari ini, 4 Maret 2026 Jangan Sampai Mepet Subuh
-
Cek Fakta: Viral Undian Haji dan Umrah Gratis 2026 Kemenag, Benarkah atau Modus Penipuan?
-
Kejari Serang Geledah Kantor BPN: Dokumen Disita, Uang Tunai Rp220 Juta Diamankan
-
Warga Palembang Wajib Tahu! Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Ini, 4 Maret 2026
-
Meski Kehilangan Istri, Haji Suryo Tanggung Penuh Biaya dan Sekolah Korban Kecelakaan
-
Ngeri! Aksi Brutal Antonio Rudiger kepada Bek Getafe Dicap Percobaan Pembunuhan
-
Soroti Kepemimpinan Wasit, Marc Klok Sebut Persib Harusnya Menang atas Persebaya
-
Pasutri Asal Cisarua Bogor Ditemukan Tewas dalam Mobil di Padalarang, Pelaku Berhasil Ditangkap
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC