/
Rabu, 09 November 2022 | 12:50 WIB
Piala Dunia| Gimpsefromtheglobe.com

Kematian Escobar rupanya bukan catatan hitam pertama Piala Dunia, pada 2015 dunia dikagetkan adanya kabar dugaan korupsi di tubuh FIFA terkait penyelenggaraan Piala Dunia. Dikutip dari theguardian.com, sejumlah pejabat FIFA diindikasikan menerima uang suap mencapai angka 150 juta dolar selama beberapa tahun event Piala Dunia. 

Mei 2015, Departemen Kehakiman AS mengeluarkan dakwaan terlibatnya Presiden FIFA, Sepp Blatter dan sejumlah petinggi FIFA lainnya terlibat aksi suap dan korupsi di tubuh FIFA terkait Piala Dunia. Belakangan, eks presiden UEFA, Michael Platini mengakui bahwa adanya permainan saat Prancis juara Piala Dunia 1998. 

Di luar kejahatan para mafia dan pejabat FIFA, penyelenggaraan Piala Dunia juga mendorong sejumlah orang di negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah untuk menyuarakan suara mereka terkait hal tak beres dari event ini. Pada Piala Dunia 2014, sejumlah orang acapkali menggelar protes ke jalanan terkait event ini. 

Pada Piala Dunia 2018, sejumlah penolakan juga disuarakan sejumlah orang. Penolakan tersebut rata-rata berlatarbelakang kebijakan politik dari negara Rusia terkait konflik di Suriah. Lalu ada juga suara-suara sumbang terkait Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Qatar dianggap melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap para pekerja yang membangun infrastruktur Piala Dunia 2022. 

Menurut data International Trade Union Centre (ITUC), ada 10 aspek yang menjadi pelanggaran akan hak pekerja di Qatar. Sebagian besar mereka yang terdampak merupakan pekerja yang terlibat dalam persiapan proyek Piala Dunia 2022.

Load More