/
Rabu, 09 November 2022 | 21:17 WIB
ilustrasi bentrok suporter - pixabay

Hooligan Inggris 

Rekam jejak hooligan Inggris sebagai pelaku rusuh di laga sepakbola sudah tak ada yang bisa menyangkal. 

Saat perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia, Vladimir Putin sempat mengingatkan hooligan Inggris akan tidak banyak bertingkah di Rusia. 

Tak hanya Putin, saat itu sejumlah kelompok ultras Rusia juga berikan ultimatim kepada hooligan Inggris.

Mereka mengancam hooligan Inggris untuk tidak membuat tindakan yang meresahkan penonton dan warga Rusia saat perhelatan Piala Dunia 2018. 

Hooligan Argentina 

Selanjutnya ialah kelompok hooligan asal negeri Lionel Messi, Argentina. Pada Piala Dunia 2022, sebanyak 6000 suporter dilarang untuk datang ke Qatar

Pada Piala Dunia 2018, sebanyak 3000 hooligan asal Argentina tidak diberi izin untuk menonton langsung laga Tim Tango di Rusia.

3000 orang itu dicurigai memiliki potensi besar untuk berbuat rusuh di Negeri Berung Merah tersebut. 

Baca Juga: Profil Sepp Blatter, Eks Presiden FIFA yang Ngaku Salah Tunjuk Qatar Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Nah, di Piala Dunia 2022, langkah antisipasi diambil oleh pemerintah Argentina dengan melarang 6000 suporter mereka. 

"Mereka dimasukkan ke daftar cekal karena termasuk dalam "barras" (suporter yang gemar rusuh), dan yang ikut dalam tindakan kekerasan, seperti organisasi terlarang 'trapitos' (bisnis ilegal di jalanan) dan yang berutang karena korban perceraian orang tua." kata Menteri Kehakiman dan Keamanan Buenos Aires, Marcelo D'Alessandro. 

Hooligan Rusia 

Terakhir tentu saja kelompok hooligan Rusia. Hooligan Rusia dikenal sebagai salah satu kelompok suporter di sepakbola yang siap untuk adu fisik di momen tertentu. 

Tidak seperti banyak hooligan lain pada umumnya, hooligan Rusia lebih senang untuk adu fisik dengan tangan kosong. Istilah 'open fight' bakal mereka lontarkan ke kelompok hooligan Inggris yang bakal datang ke Qatar.

Load More