Sejak nama besarnya meroket naik dalam bursa pelatih elite Eropa bersama Porto—yang notabene klub kelas dua di Eropa barat—strategi yang diimplementasikan Mourinho terbilang efektif tapi banyak dibenci lawan-lawannya.
Mou kerapkali melecut semangat skuatnya agar bisa segera mencetak gol. Tapi setelah gawang lawan kebobolan dan skuatnya unggul, ia segera memerintahkan pion-pion di lapangan untuk bertahan habis-habiskan. Taktik Mou itu, meski dengan nada sindiran, beken disebut sebagai strategi parkir bus.
Strategi itu moncer pada eranya. Khalayak pasti bisa mengingat betapa frustrasinya Xavi—playmaker tercerdas dan terjeli pada eranya—untuk menembus lini pertanahan Inter Milan pada ajang Liga Champions 2010 yang dilatih Mourinho.
Xavi dalam pertandingan itu cuma bisa membolak-balikkan bola dari sisi kanan ke sisi kiri di lapangan tengah, karena tak ada celah lini belakang Inter yang bisa dieksploitasi.
Sementara soal mengorbitkan pemain muda binaan sendiri? Selain Scott Tominay, Mou hanya melanjutkan apa yang sudah diwariskan Louis van Gaal seperti Marcus Rashford, Andreas Pereira, dan Andre Gomez.
Selama kepemimpinannya di Man United, Mou lebih suka menghabiskan Rp 6,6 triliun untuk membeli total 11 pemain.
Siapa yang mengubah dunia tatkala Mourinho pede dengan visi sepak bolanya yang terkesan konservatif? Orang itu adalah Joseph Guardiola—yang celakanya adalah musuh bebuyutan Mou.
”Sejak Pep Guardiola mengambil alih Barcelona dan Spanyol memenangkan Euro 2008, permainan telah berubah. Sepak bola mereka mengubah banyak hal. Mereka membuat sepak bola tak lagi fokus pada bagaimana merebut bola, melainkan memainkannya,” tulis Miguel Delaney, Chief Football Writer The Independent, 14 Maret 2018.
Seusai mengalahkan Lukaku Cs, bek tengah Sevilla Simon Kjaer sebenarnya tanpa sadar menunjukkan visi strategi sepak bola Mourinho.
Baca Juga: Diskon Akhir Tahun, Cek Promo dari 3 Toko Furniture Ternama Ini!
”Kami tahu, dalam pertandingan, United akan menciptakan peluang ’secara kebetulan’ dan bertahan. Akhirnya kami berinisiatif menyerang,” tutur Simon Kjaer, polos.
Menciptakan peluang secara kebetulan, bukan ’penciptaan’, tak pula hasil koordinasi—sungguh kejujuran Simon Kjaer yang meski keji, tapi persis mengiaskan gaya sepak bola United era Mourinho.
Miguel Delaney bersepakat dengan Simon Kjaer. Miguel dalam artikelnya tak kalah garang mengecam pola yang diterapkan Mou sehingga dikalahkan tim papan tengah La Liga Spanyol itu.
”Mengapa Mourinho hanya merasa perlu menyerang hanya 6 menit dari total 180 menit permainan? Kenapa tidak ’main’ saja? Apa yang seharusnya menjadi salah satu laga klasik Eropa di Old Tafford telah berubah menjadi penghinaan!”
Mourinho sempat membela diri saat mengomentari kekalahannya dari Sevilla. Ia bertekad mengubah segalanya di United, termasuk visi permainan.
”Segalanya harus berubah di United setelah kekalahan lawan Sevilla,” tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Miliano Jonathans Jadi Pahlawan, Cetak Gol Debut Selamatkan Excelsior dari Kekalahan
-
Marseille vs Liverpool di Liga Champions: The Reds Menang Telak 3-0
-
Bojan Hodak Bawa Kabar Baik Jelang Persib vs PSBS Biak, Apa Itu?
-
Rekor Solomon vs Tim ASEAN, Timnas Indonesia Berpotensi Pesta Gol?
-
Sempat Didekati MU, Emiliano Martinez Kini Masuk Radar Inter Milan
-
Inter Milan Dipermalukan Arsenal, Kepemimpinan Wasit Joao Pinheiro Tuai Pujian
-
Cetak Brace ke Gawang AS Monaco, Mbappe Kini Sejajar dengan Cristiano Ronaldo
-
Federico Barba Dipastikan Bertahan di Persib Bandung
-
Gagal Bersinar di Arsenal, Cerita Brooklyn yang Terbebani dengan Label Anak David Beckham
-
Gareth Bale Bongkar Alasan Xabi Alonso Gagal di Real Madrid: Bukan Soal Taktik, tapi...