Suara.com - Shin Tae-yong adalah mantan pemain sepak bola dan kini dikenal sebagai pelatih asal Korea Selatan yang menangani Tim Nasional Indonesia.
Shin Tae-yong adalah sosok pertama yang berhasil menjuarai Liga Champions Asia sebagai pemain dan pelatih. Itu hanya beberapa prestasi yang dimiliki oleh pria 53 tahun tersebut.
Perjalanan Karier Pemain
Setelah lulus dari Yeungnam University, Shin Tae-yong bergabung dengan Ilhwa Chunma dan menghabiskan 12 musim di sana.
Selama lebih dari satu dekade itu, Shin Tae-yong sukses meraih berbagai gelar kolektif dan individu. Di antaranya Pemain Muda Terbaik K League 1992 saat musim perdananya sebagai pemain profesional.
Ia juga jadi aktor penting dalam keberhasilan Ilhwa Chunma tiga musim beruntun menjuarai K League 1 (1993-1995). Di musim 1995, Shin juga dinobatkan sebagai MVP K League dan menjuarai Liga Champions Asia.
Sepanjang karirnya di Ilhwa Chunma, Shin Tae-yong mencatatkan 99 gol dan 68 assist dari 401 penampilan di semua ajang.
Ia bisa saja hanya membela satu tim sepanjang berkarir, tapi Shin Tae-yong memilih pindah ke Australia untuk membela Queensland Roar dan pensiun di sana pada 2005 karena cedera ankle.
Shin Tae-yong yang berposisi sebagai gelandang serang, dijuluki sebagai “Fox on the Ground” karena kemampuannya dalam dribbling dan passing.
Baca Juga: Belum Tembus Tim Utama Suwon FC, Pratama Arhan Malah Jalan-jalan Bareng Raffi Ahmad di Korea
Karier sebagai Pelatih
Perjalanannya di dunia kepelatihan dimulai saat menjadi asisten pelatih di Queensland Roar. Ia baru terjun sebagai pelatih saat ditunjuk menangani klubnya dulu Seongnam Ilhwa Chunma pada 2009.
Total empat musim Shin Tae-yong menangani Ilhwa Chunma dengan memberi gelar Liga Champions Asia 2010 dan Piala FA Korea 2011.
Shin Tae-yong sempat menganggur usai meninggalkan Seongnam Ilhwa. Ia baru ditunjuk menjadi caretaker Timnas Korea Selatan pada 2014 lalu menjadi asisten pelatih hingga 2017.
Di periode tersebut, Shin Tae-yong juga menangani Timnas U-23 Korea dan sempat ditunjuk melatih Timnas U-20 Korea di Piala Dunia U-20 2017.
Shin Tae-yong kembali ditunjuk melatih Timnas Korea pada 2017 menggantikan Uli Stielike. Di tahun yang sama ia membawa Korea menjuarai EAFF Championship.
Salah satu sorotan di karir kepelatihan Shin Tae-yong bersama Korea adalah mengalahkan Jerman di Piala Dunia 2018, kendati di kompetisi itu Negeri Ginseng tersingkir di fase grup.
Satu tahun menganggur setelah didepak dari Timnas Korea, Shin Tae-yong menerima tawaran melatih Timnas Indonesia pada Desember 2019.
Di bawah arahan Shin Tae-yong wajah Timnas Indonesia berubah. Indonesia dikenal dengan rata-rata usia muda di tim seniornya.
Meski belum ada gelar juara yang dipersembahkan Shin Tae-yong buat Indonesia, tapi sederet rekor dan sejarah diciptakan olehnya.
Di antaranya meloloskan tiga tim berbeda Timnas U-20, Timnas U-23, dan Timnas Senior ke Piala Asia lewat jalur kualifikasi.
Shin juga membawa Timnas Indonesia untuk pertama kali lolos dari fase grup di Piala Asia 2023 dan membawa Timnas U-23 melaju hingga semifinal Piala Asia U-23 2024.
Sejauh ini Shin Tae-yong sudah menukangi Timnas Indonesia dalam 50 pertandingan resi dengan catatan 24 kemenangan, 10 kali imbang, dan 16 kali kalah.
Prestasi Shin Tae-yong
Sebagai Pemain
Seongnam Ilhwa Chunma
6x K League 1
1x Piala FA Korea
3x Piala Liga Korea
1x Piala Super Korea
1x Liga Champions Asia
1x Piala Super Asia
Sebagai Pelatih
Seongnam Ilhwa Chunma
1x Liga Champions Asia
1x Piala FA Korea
Korea Selatan
1x Piala EAFF.
Kontributor: Aditia Rizki
Berita Terkait
-
Belum Tembus Tim Utama Suwon FC, Pratama Arhan Malah Jalan-jalan Bareng Raffi Ahmad di Korea
-
Berkah Latih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong Tambah Koleksi Mobil Mewah
-
Kerajinan, Media Vietnam Rekap Momen Shin Tae-yong Marah-marah
-
Gagal ke Olimpiade, Ernando Ari Bidik Target Lebih Besar Bersama Timnas Indonesia
-
Bek NEC Nijmegen Dion Markx Ngebet Bela Timnas Indonesia Usai Ketemu Indra Sjafri, Ternyata Alasannya Sederhana Sekali
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Profil Timnas Jerman: Tenaga Muda Der Panzer Siap Jadi Penantang Gelar Juara Piala Dunia 2026
-
John Henry Kirim Sinyal Keras ke Arne Slot, Liverpool Dilarang Ulangi Rekor Kekalahan Terburuk
-
Diego Simeone Terima Atletico Tersingkir di Liga Champions: Nggak Ada Alasan
-
Mark Viduka Sang Mesin Gol: Tolak Naturalisasi Krosia, Pilih Setia Antarkan Australia ke Piala Dunia
-
Kata-kata Mikel Arteta, Bukayo Saka Menjadi Pahlawan Emirates Stadium
-
Rustu Recber Legenda Turki: Kisah Kiper Eksentrik dengan Cat Hitam di Mata Viral di Piala Dunia 2002
-
Paul Van Himst, 'The White Pele' dari Belgia yang Mengukir Keabadian
-
Profil Eduardo Barbosa: Eks Portugal U-15 yang Tinggalkan PSBS Biak Lebih Cepat Akibat Krisis Gaji
-
Eusebio Sang Black Panther Portugal: Ketajaman Abadi di Panggung Piala Dunia 1966
-
Gaji 4 Bulan Belum Dibayar, Pemain PSBS Biak Ancam Mogok Lawan Dewa United