Suara.com - Gelaran Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat menjadi sorotan bukan hanya karena kualitas tim yang bertanding, tetapi juga karena kondisi cuaca ekstrem yang terus mengganggu jalannya pertandingan.
Cuaca panas yang melanda sejumlah kota tuan rumah membuat beberapa laga mengalami gangguan serius, dari cooling break tambahan hingga penundaan karena badai petir dan suhu ekstrem.
Fenomena ini menjadi alarm keras bagi dunia sepak bola bahwa pemanasan global bukan isu masa depan lagi, melainkan kenyataan yang kini memengaruhi pertandingan elite dunia.
Di kota seperti Philadelphia, suhu tercatat mencapai lebih dari 36 derajat Celcius saat pertandingan berlangsung, membuat banyak pemain mengeluhkan kelelahan dan kesulitan bernafas.
Chelsea bahkan harus mempersingkat sesi latihannya karena dianggap terlalu berisiko bagi pemain untuk beraktivitas di bawah paparan panas yang ekstrim.
Masalah ini tak hanya muncul dalam bentuk panas terik. Beberapa laga seperti Boca Juniors vs Auckland City terpaksa dihentikan akibat badai petir yang tiba-tiba muncul.
Kondisi ini tentu mengganggu ritme pertandingan dan memengaruhi performa tim yang harus menyesuaikan kembali strategi setelah jeda yang tidak direncanakan.
Cooling break di menit 30 dan 75 mulai menjadi standar, tapi banyak pemain menganggap itu belum cukup untuk mengimbangi beban fisik akibat cuaca yang tidak bersahabat.
Fakta bahwa pertandingan masih dijadwalkan pada siang hari juga menambah tekanan. Suhu tertinggi biasanya terjadi sekitar pukul 14.00 hingga 16.00, tepat ketika laga berlangsung.
Baca Juga: Siapa Saja 13 Klub Tersingkir dari Piala Dunia Antarklub 2025?
FIFA mendapat kritik dari sejumlah pelatih dan pemain yang menuntut perubahan jam pertandingan atau penggunaan stadion indoor demi keselamatan atlet.
Beberapa venue dengan rumput sintetis pun terkena dampak. Lapangan terasa lebih panas, kering, dan memicu risiko cedera karena bola sulit dikontrol dan gerakan kaki menjadi lebih berat.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: seberapa siap sepak bola dunia menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak bisa diprediksi?
Pertandingan yang ditunda atau terganggu karena cuaca ekstrem akan merusak ritme turnamen, memengaruhi jadwal siaran, dan membuat pengalaman penonton jadi kurang maksimal.
Selain itu, meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem di turnamen besar akan menguji kesiapan panitia dalam menyediakan alternatif logistik seperti ruangan pendingin dan sistem evakuasi cepat.
Pemanasan global secara perlahan mulai mendikte strategi, waktu, dan format dalam penyelenggaraan pertandingan, sesuatu yang sebelumnya jarang dipertimbangkan secara serius.
Berita Terkait
-
1000 Hari Tragedi Kanjuruhan, Doa dan Tuntutan Keadilan Bagi Korban
-
Iran Disanksi FIFA? Mungkinkah Posisinya Digantikan Timnas Indonesia di Piala Dunia 2026?
-
Siapa Alexandre Pato? Gagal Di AC Milan Kini Siap Bantu Pemulangan Juliana Marins
-
Di Mana Tuan Rumah Babak 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Jika Batal Digelar di Qatar?
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Persija Jakarta Hadirkan Terobosan Baru, Jembatani Sepak Bola dan Literasi Investasi
-
Latihan Digeruduk The Jakmania Jelang Hadapi Persib, Persija Sambut Positif
-
Kapan Pertandingan Perdana John Herdman Sebagai Pelatih Timnas Indonesia?
-
Lamine Yamal Lampaui Haaland dan Mbappe Jadi Pemain Termahal Sejagat
-
Filosofi Permainan Cepat John Herdman Bisa Mengubah Gaya Timnas Indonesia Jadi Lebih Agresif
-
Borneo FC Tumbang dari Persita, Duel Klasik Persib vs Persija Penentu Juara Paruh Musim
-
Manchester City Resmi Rekrut Antoine Semenyo Senilai Rp1,3 Triliun
-
Hasil Persita vs Borneo FC 2-0: Pendekar Cisadane Tak Tertahankan Masuk Persaingan Papan Atas
-
Rekor Unbeaten Akhirnya Runtuh! Sunderland Babak-belur di Markas Brentford
-
John Herdman Bisa Rayu Pascal Struijk Gabung Timnas Indonesia