- Han Willhoft-King mengaku tidak menikmati rutinitas latihan Manchester City di bawah Pep Guardiola.
- Cedera panjang dan kejenuhan membuatnya memilih mundur dari sepak bola profesional.
- Ia kini melanjutkan studi hukum di Universitas Oxford.
Suara.com - Han Willhoft-King pernah dipandang sebagai salah satu prospek paling cerah di sepak bola Inggris.
Ia tampil bersama Manchester City U-21 dan bahkan beberapa kali dipanggil Pep Guardiola untuk ikut berlatih dengan skuad utama.
Namun, pengalaman itu justru ikut mendorongnya mengambil keputusan paling tidak terduga: pensiun muda dan memilih fokus kuliah di Universitas Oxford.
Willhoft-King bukan pemain sembarangan. Sejak usia enam tahun, ia sudah ditempa di akademi Tottenham Hotspur dan tumbuh bersama para talenta terbaik Inggris seperti Myles Lewis-Skelly dan Ethan Nwaneri.
Kemampuannya membaca permainan membuatnya pernah digadang-gadang sebagai gelandang bertahan masa depan Spurs.
Kesempatan berlatih dengan tim utama Tottenham datang saat ia masih menempuh pendidikan sekolah menengah, ketika Antonio Conte memberi ruang pada sang gelandang untuk merasakan kerasnya latihan level profesional.
Namun cedera panjang yang datang beruntun menjadi awal pergeseran arah kariernya.
Cedera besar pada musim 2021–2022 dan musim berikutnya membuat perkembangan Willhoft-King terhenti.
Saat pindah ke Manchester City pada 2024, masalah yang sama kembali membatasi menit bermainnya di tim U-21.
Baca Juga: Bakat Muda Jawa-Belanda, Pemain Keturunan Indonesia Ikai Muhamad Torehkan 12 Gol!
Meski demikian, ia tetap berada dalam radar Pep Guardiola.
Willhoft-King beberapa kali dipanggil untuk berlatih di bawah arahan pelatih senior City itu.
Justru dari titik inilah ia menyadari bahwa ritme hidup pesepak bola bukan sesuatu yang membuatnya bahagia.
“Aku tidak menikmatinya. Mungkin lingkungannya. Aku cepat bosan. Latihan, pulang, lalu tidak melakukan apa pun. Sekarang aku kesulitan mencari waktu luang karena ada kuliah, teman, dan sepak bola kampus.”
Sosok yang dikenal sangat cerdas itu memang memiliki jalur lain yang sama kuatnya: akademik.
Menurut laporan The Guardian, ia meraih nilai A untuk matematika, ekonomi, dan sejarah—didukung latar belakang keluarga akademis, dengan ayah seorang mantan dosen filsafat dan ibu seorang arsitek.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Inter Milan Tunggu Lampu Hijau Cancelo, Al-Hilal Siap Tanggung Sebagian Gaji
-
Profil Marco Ottolini Direktur Olahraga Juventus yang Baru Ditunjuk, Orang Lama Bianconeri
-
Persik Kediri vs Persib Bandung Resmi Digelar di Stadion Brawijaya, Bobotoh Dilarang Datang
-
Hansi Flick Pastikan Lamine Yamal dan Dani Olmo Siap Tampil di Derby Barcelona
-
Ruben Amorim Tantang Pemain Muda Manchester United Hadapi Atmosfer Panas Elland Road
-
Detik-detik Emosi Donnarumma Meledak Usai City Ditahan Sunderland, Pep Guardiola Turun Tangan
-
Presiden PSG Untuk Ketiga Kalinya Bebas: Kasus Korupsi Nasser Al-Khelafi Gugur di Pengadilan Swiss
-
Rp 21 Triliun! Komisi Agen Pemain 2025 Meledak 90%, Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah
-
Lothar Matthaus: Jamal Musiala dan Wirtz Kunci Kebangkitan Timnas Jerman di Piala Dunia 2026
-
Pemerintah Bekukan Timnas Gabon, Pierre-Emerick Aubameyang Lawan Balik