-
PSSI sepakat menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru menggantikan kandidat Patrick Kluivert.
-
Herdman memiliki latar belakang masa lalu yang keras sebelum sukses melatih tim dunia.
-
Kehadiran pelatih asal Inggris ini diharapkan mampu membangkitkan prestasi Timnas Indonesia internasional.
Suara.com - Asosiasi Sepak Bola Seluruh Indonesia kini sedang bersiap memperkenalkan sosok pelatih baru bagi skuad Garuda Timnas Indonesia.
Nama John Herdman mencuat kuat sebagai kandidat utama yang akan segera mengisi kursi kepelatihan nasional.
Keputusan ini diambil setelah jajaran anggota Komite Eksekutif PSSI menyatakan kesepakatan kolektif mereka pekan ini.
Herdman diproyeksikan untuk mengambil alih tonggak kepemimpinan tim yang sebelumnya direncanakan untuk Patrick Kluivert.
Secara kualitas dan portofolio internasional, sosok asal Inggris ini dianggap memiliki level yang jauh lebih unggul.
Perbandingan antara pengalaman Herdman dengan kandidat lainnya digambarkan layaknya perbedaan antara bumi dan langit.
Kehadiran mantan pelatih Kanada ini diharapkan mampu membawa revolusi besar bagi performa tim nasional Indonesia.
PSSI menaruh harapan besar agar wajah sepak bola tanah air kembali bersinar setelah era Shin Tae-yong.
Rekam jejak prestisius yang ia miliki saat menangani tim di Oceania dan Amerika Utara menjadi alasan utama.
Baca Juga: Segera Jadi Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman Ternyata Sudah Menganggur Setahun
Namun di balik kesuksesan taktiknya, pria ini menyimpan sejarah kehidupan yang sangat menyentuh hati banyak orang.
Perjuangan Pahit Masa Kecil
Kehidupan masa lalu John Herdman ternyata tidak berjalan mulus dan dipenuhi dengan berbagai rintangan berat.
Berdasarkan laporan dari media CBC, sang ayah diketahui pernah mengalami gangguan mental hingga harus diisolasi.
Sementara itu, sang ibu harus berjuang keras di tengah ketergantungan terhadap minuman keras atau alkohol.
Ia dibesarkan di Consett, sebuah kawasan industri di Inggris yang memiliki tingkat kehidupan sangat keras.
Kondisi ekonomi di kota asalnya sempat hancur total setelah sektor industri baja mengalami keruntuhan masif.
Bertahan di Lingkungan Keras
Tumbuh di lingkungan pengangguran tinggi membuat Herdman kecil berkembang menjadi pribadi yang sangat hiperaktif.
Ia dikenal sebagai sosok yang sangat keras kepala dan selalu menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas fisik.
Mulai dari olahraga tinju, renang, menari, hingga sepak bola ia geluti untuk menyalurkan energi berlebihnya.
Kerap kali ia harus terlibat dalam perkelahian fisik hanya untuk mempertahankan harga diri di jalanan.
Tekanan lingkungan yang ekstrem tersebut memaksa dirinya untuk belajar cara bertahan hidup sejak usia dini.
Melansir data dari Thestar, sebuah insiden kekerasan hebat hampir saja merenggut nyawa pelatih berbakat ini.
Ketika masih menginjak usia remaja, ia pernah mengalami penyiksaan fisik yang berlangsung selama satu jam.
Tubuhnya diseret secara kejam sebelum akhirnya dilemparkan begitu saja ke jalanan oleh para pelaku kekerasan.
Momen traumatis tersebut menjadi persimpangan hidup yang menentukan bagi masa depan karir kepelatihannya nanti.
Ia dihadapkan pada pilihan sulit antara menyerah pada keadaan atau bangkit meninggalkan lingkaran setan tersebut.
Titik Balik Menuju Kesuksesan
Cahaya terang dalam hidupnya mulai muncul saat ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Clare.
Hubungan yang terjalin sejak usia empat belas tahun tersebut menjadi penyelamat bagi kesehatan mentalnya.
Keluarga Clare dengan tangan terbuka memberikan tempat bernaung saat Herdman tidak memiliki tempat untuk pulang.
Dukungan emosional dari lingkungan baru tersebut perlahan mengarahkan fokusnya kembali ke dunia pendidikan olahraga.
Ia memulai langkah profesionalnya di akademi sepak bola hingga menjadi pelatih usia muda di klub Sunderland.
Keberaniannya berpindah ke Selandia Baru membuka jalan baginya untuk mencetak sejarah baru di dunia kepelatihan.
Namanya semakin meroket saat ia berhasil membawa tim nasional Kanada menembus putaran final Piala Dunia 2022.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa visi yang ia bangun sejak lama bukanlah sekadar bualan belaka.
Strategi yang ia terapkan terbukti ampuh dalam membangun fondasi jangka panjang bagi sebuah tim nasional.
“Kami akan lolos ke Piala Dunia 2022 dan membangun fondasi menuju 2026,” ucapnya pada awal 2019.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Dugaan Skandal PT Minna Padi Asset Manajemen dan Saham PADI, Kini Diperiksa Polisi
-
Epstein Gigih Dekati Vladimir Putin Selama Satu Dekade, Tawarkan Informasi 'Rahasia AS'
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
Terkini
-
5 Fakta Keluarga Besar Ragnar Oratmangoen: Dari Sutradara, Musisi, Dubes hingga Bupati
-
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
-
Sassuolo Sambut Hangat John Herdman yang Pantau Jay Idzes
-
Striker Rosenberg Dipanggil Timnas Indonesia U-17 untuk Lawan China
-
Peta Persebaran Pemain Timnas Indonesia di Klub Lokal, Siapa Terbanyak?
-
5 Fakta Menarik Jop van der Avert, Bek Asing Baru PSIM Yogyakarta
-
Adu Rekor Timnas Futsal Indonesia vs Jepang Jelang Semifinal Piala Asia Futsal 2026
-
Syauqi Saud Optimis Bisa Kalahkan Jepang di Semifinal Piala Asia Futsal 2026
-
Cerita Miris Ayah Ragnar Oratmangoen, Jadi Pemain Amatir di Belanda Tanpa Kewarganegaraan
-
Penyelamatan Pakai Wajah, Ahmad Habibie Gembira Dinyanyikan Suporter di Indonesia Arena