Bola / Bola Indonesia
Jum'at, 09 Januari 2026 | 13:57 WIB
Joey Pelupessy curhat usai kegagalan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026. (Instagram/joeypelupessy)
Baca 10 detik
  • Gelandang Timnas Indonesia, Joey Pelupessy, masih kecewa atas kegagalan di Kualifikasi Piala Dunia 2026.
  • Timnas di bawah Patrick Kluivert gagal total pada putaran keempat setelah menelan dua kekalahan beruntun.
  • Pelupessy merasa ini adalah kesempatan emas terakhirnya mengingat usianya yang sudah menginjak 32 tahun.

Suara.com - Rasa kecewa mendalam masih menyelimuti gelandang Timnas Indonesia, Joey Pelupessy bahkan berbulan-bulan setelah kegagalan tragis di Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Baginya itu bukan sekadar kegagalan, melainkan akhir dari sebuah mimpi yang mungkin tak akan pernah datang lagi.

Di bawah arahan Patrick Kluivert, skuad Garuda memang gagal total di putaran keempat, menelan dua kekalahan dari Arab Saudi dan Irak.

Namun yang paling menyakitkan bagi Pelupessy adalah betapa dekatnya mereka dengan kelolosan sebelum akhirnya semua sirna begitu saja.

Ia mengakui permainan tim saat itu memang tidak solid. Namun, rasa sesal karena gagal memanfaatkan peluang besar di putaran sebelumnya adalah hal yang paling menghantuinya.

"Jika kamu kalah dua kali, maka kamu memang tidak pantas mendapatkannya. Tapi kami hampir saja lolos dengan cepat. Dan tiba-tiba semuanya berakhir," ucap Joey Pelupessy dikutip ari Tubantia.

"Itu benar-benar menghancurkan hatiku. Perasaan itu pasti bertahan selama dua minggu," sambungnya.

Bagi pemain berusia 32 tahun ini, kegagalan tersebut terasa lebih personal.

Di usianya yang tak lagi muda, ia sadar betul bahwa ini adalah kesempatan emas, mungkin satu-satunya, untuk bisa merasakan atmosfer panggung Piala Dunia.

Baca Juga: Bersaing dengan 3 Nama, Eks Pemain Persipura Disebut Jadi Kandidat Kuat Asisten Pelatih John Herdman

"Saya bisa saja pergi ke Piala Dunia. Ini adalah satu-satunya kesempatan saya, seratus persen," ujar Pelupessy.

Meskipun tidak menutup pintu sepenuhnya untuk masa depan, ia memilih untuk bersikap realistis.

"Dalam lima tahun, saya akan berusia 37 tahun. Jangan pernah mengatakan tidak pernah. Tapi saya lebih suka bersikap realistis. Ini seharusnya terjadi sekarang," ujarnya lagi.

Rasa patah hati itu semakin lengkap dengan perpisahan mendadak dari seluruh staf kepelatihan. Proyek yang sedang mereka bangun bersama tiba-tiba harus berakhir.

"Bukan berarti kita menangis di telepon satu sama lain. Tapi kita bekerja menuju sesuatu, dan tiba-tiba itu berakhir dengan sayang," katanya.

Kini Joey Pelupessy hanya bisa fokus untuk memberikan yang terbaik di level klub bersama Lommel SK, berharap performa apiknya bisa kembali menarik perhatian pelatih baru Timnas Indonesia, John Herdman meskipun mimpi terbesarnya telah terkubur.

Load More