- Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, mendukung boikot Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat karena kekhawatiran keamanan dan politik domestik.
- Wacana boikot muncul akibat ketegangan politik AS dengan Eropa, diperkuat oleh pejabat Federasi Sepak Bola Jerman (DFB).
- Sebagian besar dari 104 pertandingan Piala Dunia 2026 akan dilaksanakan di Amerika Serikat, menjadikannya fokus utama isu ini.
Suara.com - Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, secara terbuka mendukung seruan boikot Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat.
Pria berusia 89 tahun itu meminta para suporter untuk tidak datang ke AS selama turnamen berlangsung, dengan alasan kekhawatiran serius terhadap faktor keamanan dan situasi politik domestik negara tersebut.
Piala Dunia 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026, dengan tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Blatter menyampaikan sikapnya pada Senin (26/1/2026), sekaligus menguatkan pernyataan pengacara anti-korupsi asal Swiss, Mark Pieth, yang sebelumnya mempertanyakan kelayakan Amerika Serikat sebagai tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.
Dalam wawancaranya dengan media Swiss Tages-Anzeiger, Pieth menyoroti sejumlah persoalan internal di AS, mulai dari isu marginalisasi oposisi politik hingga dugaan pelanggaran terhadap imigran. Ia bahkan menyarankan agar penggemar sepak bola lebih aman menonton Piala Dunia dari televisi saja.
“Para suporter berisiko menghadapi masalah hukum dan bisa saja dipulangkan secara cepat jika dianggap melanggar aturan otoritas setempat,” ujar Pieth.
Blatter menegaskan dukungannya terhadap pandangan tersebut dan secara eksplisit menyebut boikot sebagai langkah yang layak dipertimbangkan.
Seruan Boikot dari Federasi Jerman
Wacana boikot Piala Dunia 2026 mulai mencuat di Eropa. Seorang pejabat Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) menilai sudah saatnya pembahasan tersebut dilakukan secara serius, menyusul meningkatnya ketegangan politik antara Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa akibat pernyataan Presiden AS, Donald Trump.
Baca Juga: Jerman Serukan Boikot, Prancis Pasang Badan untuk Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 rencananya digelar pada musim panas mendatang dan akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan mayoritas pertandingan berlangsung di wilayah AS.
Ketegangan diplomatik meningkat setelah Trump menuai kecaman dari para pemimpin Eropa karena mengancam akan mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark.
Selain itu, presiden berusia 79 tahun tersebut juga sempat mengancam penerapan tarif dagang terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman, yang menentang rencana tersebut.
Meski Trump kemudian menarik kembali ancaman tarif, hubungan antara pemerintah AS dan sejumlah negara Eropa dinilai masih berada dalam situasi sensitif.
Wakil Presiden DFB sekaligus Presiden klub Bundesliga St Pauli, Oke Gottlich, menyatakan bahwa pembicaraan soal boikot Piala Dunia sudah tidak bisa lagi dihindari.
“Saya benar-benar bertanya-tanya kapan waktunya untuk mulai memikirkan dan membicarakan ini [boikot] secara konkret,” ujar Gottlich kepada surat kabar Hamburger Morgenpost.
Berita Terkait
-
Jerman Serukan Boikot, Prancis Pasang Badan untuk Piala Dunia 2026
-
Iran Siapkan Markas Perang di Amerika! Kino Sports Complex Jadi Base Camp Piala Dunia 2026
-
Resmi! Indonesia Ajukan Bidding Tuan Rumah Piala Dunia Futsal 2028
-
Skandal Presiden FIFA, Diprotes Harga Tiket Piala Dunia 2026 Kemahalan Malah Hina Suporter Inggris
-
Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Rp3,6Miliar, Infantino: Di Resale Bisa Lebih Mahal
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Terdampak kemarau, Ratusan Titik di Banten Kekurangan Air Bersih
-
Direktur Utama RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Bantah Ada Penyimpangan Anggaran
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA