-
PSSI membantah keterlibatan dalam memulangkan pemain naturalisasi ke liga domestik demi Piala AFF.
-
Perpindahan pemain ke Super League merupakan murni urusan finansial antara klub dan pemain.
-
Arya Sinulingga menegaskan federasi tidak pernah membiayai gaji pemain di tingkat klub profesional.
Suara.com - Dunia sepak bola nasional belakangan ini sedang diguncang oleh berbagai spekulasi terkait perpindahan besar-besaran pemain keturunan Timnas Indonesia.
Banyak pihak mengaitkan fenomena ini dengan strategi rahasia federasi untuk mengamankan gelar juara di masa depan.
Arya Sinulingga selaku Anggota Exco PSSI akhirnya memberikan respons tegas guna meredam kabar miring yang beredar luas.
Ia memberikan klarifikasi resmi saat ditemui oleh awak media di kawasan GBK Arena pada Senin kemarin.
Arya menepis anggapan bahwa federasi ikut mengarahkan para pemain abroad untuk berkarier di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Gelombang kedatangan pemain berlabel Timnas Indonesia ke liga domestik memang terlihat sangat masif pada musim ini.
Pada jendela transfer awal, nama besar seperti Thom Haye dan Eliano Reijnders resmi memperkuat Persib Bandung.
Bek tangguh Jordi Amat juga memilih Persija Jakarta, sementara Rafael Struick merapat ke skuad Dewa United.
Bali United tidak mau ketinggalan dengan mengamankan jasa striker muda berbakat, Jens Raven, di lini depan.
Baca Juga: Kevin Diks Ketiban Sial, Baru Comeback dari Cedera Tapi Harus Absen Lagi
Kejutan berlanjut pada paruh musim dengan masuknya nama-nama beken lainnya ke dalam daftar belanja klub lokal.
Shayne Pattynama dan Mauro Zijlstra dilaporkan menyusul untuk memperkuat komposisi tim Macan Kemayoran, Persija Jakarta.
Persib Bandung menambah kekuatan di lini pertahanan mereka dengan mendatangkan sosok pemain bertahan, Dion Markx.
Dewa United kembali membuat gebrakan besar dengan berhasil mendaratkan gelandang kreatif Timnas, Ivar Jenner.
Kehadiran para pilar utama skuad Garuda ini memicu opini publik mengenai adanya skenario khusus untuk ajang regional.
Banyak yang menduga PSSI sengaja menarik mereka pulang agar lebih mudah dipanggil saat Piala AFF 2026.
Menanggapi hal tersebut, Arya Sinulingga meminta agar masyarakat dan pengamat tidak mudah terjebak dalam opini yang menyesatkan.
"Ya ini, kita ini terlalu banyak teori konspirasi ya. Jadi saya harap teman-teman wartawan juga mencerdaskan gitu," kata Arya di GBK Arena, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, proses perpindahan seorang pemain profesional murni didasari oleh kesepakatan nilai kontrak antara pemain dan klub.
Faktor ekonomi menjadi dasar utama mengapa seorang pemain bersedia pindah ke tim baru di kompetisi mana pun.
"Yang ngasih isu juga maunya mencerdaskan, karena namanya pemain, transfer, itu menyangkut uang. Menyangkut duit. Yang bayar pemain siapa? Apakah PSSI atau klub?" jelasnya.
Perlu diingat bahwa ajang Piala AFF bukanlah turnamen yang masuk dalam kalender resmi pertandingan internasional FIFA.
Kondisi ini seringkali membuat klub-klub luar negeri enggan memberikan izin kepada pemain mereka untuk membela tim nasional.
Bermain di liga domestik memang secara teknis akan mempermudah koordinasi antara manajemen timnas dengan pihak klub terkait izin pemain.
Namun, Arya menekankan bahwa PSSI sama sekali tidak memiliki otoritas dalam mencampuri urusan finansial di tingkat klub.
"Kalau klub, berarti urusannya apa nih? Urusan duit. Tawar menawar. Yang bayar klub. PSSI enggak ada ikut-ikutan di bayar situ. Bayar-bayar enggak ada situ urusan PSSI," ia menambahkan.
PSSI menegaskan tidak ada subsidi atau bantuan dana apa pun yang diberikan kepada klub untuk mendatangkan pemain tertentu.
Setiap tim di Super League bergerak secara mandiri sesuai dengan kekuatan anggaran dan kebutuhan teknis pelatih mereka masing-masing.
"Jadi lucu kalau dibilang bahwa skenario PSSI gitu ya, untuk AFF. Emang pemain mau dibayar murah? Pemain pasti punya tawaran segini. Klub punya uang enggak? Kalau enggak cocok, ya enggak jadi. Kalau cocok bayarannya, ya jadi."
Arya juga menegaskan bahwa praktik "patungan" antara federasi dan klub tidak pernah ada dalam sistem sepak bola profesional mana pun.
"Dan PSSI enggak ada ikutan chip in gitu. Dari mana uang PSSI gitu untuk chip in chip in pemain, dan itu di dunia enggak terjadi seperti itu. Enggak ada yang namanya federasi ikutan chip in di klub untuk enggak ada lah. Mana ada. Mana enggak pernah terjadi seperti itu," ia menambahkan.
Federasi mengimbau agar para komentator sepak bola lebih bijak dan berhati-hati dalam menyebarkan informasi kepada publik.
Tuduhan tanpa dasar yang logis dikhawatirkan dapat merusak iklim industri sepak bola tanah air yang sedang berkembang.
"Jadi itu mekanisme pasar aja dan mereka ya, kita kan enggak bisa, seperti yang saya katakan, kecuali PSSI menggaji mereka. Kan enggak ada gaji PSSI terhadap pemain," tegasnya.
Arya menutup pernyataannya dengan kritikan tajam bagi para pihak yang terus menggoreng isu tanpa melihat fakta di lapangan.
"Jadi sudahlah, teori-teori konspirasi silahkan, tapi tolong yang cerdas gitu. Jangan enggak cerdas. Kalau enggak cerdas, nanti malu juga pengamatnya. Cari yang cerdas gitu lho."
"Malu lho. Dimana logikanya gitu. Ya, jadi pengamat tuh harus cerdas juga, jangan enggak cerdas. Kasihan nanti dihitung orang logikanya," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
Pilihan
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
Terkini
-
Cristiano Ronaldo Diprediksi Akhiri Aksi Mogok, Siap Bela Al Nassr Akhir Pekan Ini
-
Belum Punya Caps Resmi, PSSI Berpeluang Besar Bajak Daijiro Chirino dari Curacao
-
Lawan Saint Kitts and Nevis Jadi Ujian Perdana Garuda di Turnamen Bergengsi FIFA Series 2026
-
3 Fakta Daniel Klein Kiper Keturunan Indonesia di Bundesliga, Penerus Paes dan Audero
-
Sempat Latihan Bersama Arsenal, Alex Oxlade-Chamberlain Resmi Gabung Celtic
-
Kabar Kiper Keturunan Indonesia, Senior Maarten Paes yang Kini Jadi Agen Properti
-
Aksi Emil Audero di Italia Bikin John Herdman Optimistis Sambut FIFA Series 2026
-
Manchester City Dilaporkan Siap Gelontorkan Rp2,29 Triliun untuk Elliot Anderson
-
Isyarat PSSI: Debut John Herdman di Timnas Indonesia Tanpa Pemain Naturalisasi Baru
-
Peringkat 154 Dunia Jadi Lawan Perdana Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Ini Format Pertandingan