-
Mauro Zijlstra resmi debut bersama Persija Jakarta saat menang melawan Bali United di Gianyar.
-
Striker Timnas tersebut kaget karena Liga Indonesia menuntut lebih banyak lari dibanding Liga Belanda.
-
Persija kini duduk di posisi ketiga klasemen dan mengincar posisi puncak milik Persib Bandung.
Suara.com - Penyerang Timnas Indonesia, Mauro Zijlstra, mengaku terkejut dengan intensitas permainan di Super League 2025/2026. Debutnya bersama Persija Jakarta langsung memberinya gambaran berbeda soal karakter sepak bola Indonesia dibandingkan Eredivisie atau Liga Belanda.
Didatangkan pada paruh musim 2025/2026, pemain berusia 21 tahun itu akhirnya mencicipi menit bermain pertamanya saat Persija menghadapi Bali United pada pekan ke-21 Super League 2025/2026.
Laga yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta tersebut berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Macan Kemayoran.
Hasil itu sekaligus memutus catatan negatif Persija yang tak pernah menang dalam tujuh kunjungan terakhir ke markas Serdadu Tridatu.
Namun bukan hanya kemenangan yang menjadi sorotan. Nama Mauro Zijlstra ikut mencuri perhatian publik, terutama pendukung setia Persija, The Jakmania.
Pemain keturunan Indonesia-Belanda itu memang tidak tampil sebagai starter.
Ia masuk pada menit ke-74 menggantikan Gustavo Almeida, pencetak gol tunggal dalam pertandingan tersebut.
Meski hanya bermain singkat, momen debut itu terasa spesial bagi Mauro.
“Kesempatan yang bagus bisa menjalani debut dengan Persija,” ujar Mauro Zijlstra sebagaimana dikutip dari laman resmi I.League, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga: Patrick Kluivert Mulai Babak Baru Usai Dipecat Timnas Indonesia
Eks pemain FC Volendam tersebut kemudian mengungkapkan kesan pertamanya merasakan atmosfer kompetisi Indonesia.
Ia menilai ada perbedaan signifikan antara Super League dan Eredivisie.
Menurut Mauro, pertandingan di Indonesia jauh lebih menguras tenaga karena pemain dituntut terus bergerak dan berlari sepanjang laga.
“Di sini lebih banyak berlari selama pertandingan,” jelas Mauro Zijlstra.
Ia menggambarkan Super League sebagai kompetisi dengan tempo cepat dan transisi agresif. Ketika bola direbut, tim langsung membangun serangan balik.
Situasi ini membuat pemain harus sigap melakukan sprint, baik untuk membantu pertahanan maupun menambah daya dobrak di lini depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Arsenal Juara, 3 Pemain Ini Justru Terancam Tak Dapat Medali
-
Hitung-hitungan Persis Solo atau Madura United yang Bakal Degradasi
-
Rute Konvoi Pesta Persib Bandung Juara Super League 2026, Mulai dari Sini
-
Persib Siapkan Rute Konvoi Juara Super League: Susuri Landmark Bersejarah Bandung
-
Media Italia Soroti Lini Belakang Sassuolo Rapuh Saat Jay Idzes Absen
-
Mauricio Souza Bungkam soal Proyeksi Skuad Persija Musim Depan
-
Berapa Hadiah Arsenal Juara Premier League Liga Inggris 2026?
-
Cerita Eks Striker Persib Masuk Skuad Curacao di Piala Dunia 2026
-
Arsenal Juara, Bukayo Saka: Sekarang Mereka Tidak Tertawakan Kami Lagi
-
Marc Klok Ajukan Banding Hukuman Akumulasi Kartu Kuning, Absen di Laga Terakhir Persib Bandung