Bola / Bola Indonesia
Senin, 09 Maret 2026 | 20:05 WIB
Persijap Jepara (IG Persijap Jepara)
Baca 10 detik
  • PSSI mengancam perpanjangan larangan suporter tandang musim depan akibat maraknya kerusuhan di liga.

  • Insiden terbaru bentrokan Persijap vs Persis Solo memicu evaluasi ketat terkait keamanan stadion.

  • Arya Sinulingga menegaskan keselamatan nyawa adalah prioritas utama dibandingkan sekadar mengizinkan suporter tandang.

Suara.com - Federasi sepak bola Indonesia tengah mengevaluasi kebijakan kehadiran penonton tim tamu di stadion untuk kompetisi mendatang.

Langkah ini diambil menyusul berbagai insiden keributan yang masih mewarnai perjalanan BRI Super League musim 2025/2026.

Situasi keamanan yang belum stabil memicu kekhawatiran serius bagi pengelola liga dan otoritas sepak bola tertinggi di tanah air.

Salah satu pemicu evaluasi ini adalah pecahnya bentrokan setelah laga Persijap Jepara menjamu Persis Solo baru-baru ini.

Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bumi Kartini tersebut berakhir dengan catatan kelam akibat perselisihan antarpendukung.

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menyatakan keprihatinannya atas perilaku oknum fans yang seolah hilang ingatan.

Ia merasa sebagian pendukung sudah melupakan pahitnya tragedi besar yang pernah melanda dunia kulit bundar di Indonesia.

"Ini suporternya lupa sama tragedi Kanjuruhan dan lain-lain. Jadi, mereka lupa sepertinya, itu yang membuat kami sedih juga," kata Arya kepada awak media.

Padahal, kebijakan pembatasan kehadiran suporter tamu sudah diupayakan selama tiga tahun terakhir sebagai langkah preventif.

Baca Juga: Keributan Suporter Masih Terjadi di Liga Indonesia, PSSI Buka Opsi Perpanjang Larangan Away

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak pihak yang melanggar aturan tersebut tanpa memikirkan dampak bagi klub.

Meskipun ada beberapa pertandingan yang berjalan damai dengan kehadiran suporter lawan, jumlahnya dinilai belum signifikan.

PSSI melihat bahwa perilaku positif dalam satu atau dua laga belum bisa menjadi tolok ukur keamanan secara menyeluruh.

"Sebenarnya kami sudah bilang tidak boleh tandang, tapi tetap saja dilanggar. Kemarin juga ada itu satu pertandingan tandang, itu bagus antarsuporter, terus saya ditanya, 'Ini bagus, ayo dong buka away-nya'. Ternyata, itu hanya satu, ini hanya satu," jelasnya.

Federasi menekankan bahwa fokus utama saat ini bukan sekadar menjalankan roda kompetisi, melainkan perlindungan terhadap nyawa manusia.

Kejadian kekerasan di tribun maupun luar stadion sangat berpotensi menimbulkan korban jiwa yang seharusnya bisa dihindari sejak awal.

Arya mengingatkan kembali esensi mendukung tim kesayangan yang seharusnya dilakukan dengan penuh kedamaian dan sportivitas tinggi.

Setiap orang yang datang ke stadion diharapkan bisa kembali ke rumah dalam keadaan selamat tanpa kekurangan apa pun.

"Ini tidak hanya satu. Ini menyangkut nyawa gitu. Kita berharap teman-teman suporter bisa ingat janji kita ketika masuk stadion itu bajunya putih, keluar juga bajunya putih, jangan ada warna lain yang membuat kita celaka," ucap Arya.

Persaingan emosional yang terjadi di lapangan tidak semestinya dibawa ke ranah kekerasan yang merugikan banyak pihak terkait.

Pertanyaan besar muncul mengenai alasan di balik ego sektoral suporter yang masih sering memicu konflik fisik berkepanjangan.

"Buat apa kita harus ada korban-korban lagi, emosi yang ada di situ terus, buat apa. Itu jadi pertanyaan kita juga. Maka dari itu, sampai sekarang kami tetap membuat larangan away," tegas Arya mengenai alasan aturan tersebut.

Saat ini, internal PSSI sedang melakukan kajian mendalam terkait regulasi suporter mengingat tensi pertandingan yang semakin memanas.

Paruh akhir musim kompetisi dianggap sebagai fase yang sangat krusial dan rawan terjadi gesekan antarkelompok pendukung fanatik.

"Sekarang kita sedang diskusi. Kenapa diskusi? Di PSSI kita sedang diskusi. Karena sekarang lagi menuju kondisi-kondisi yang rawan, kan ini menuju akhir musim. Jadi, ini kondisi rawan," ia menambahkan.

Perebutan gelar juara dan upaya menghindari zona degradasi membuat setiap poin menjadi sangat sensitif bagi para suporter.

Fenomena pengejaran terhadap perangkat pertandingan dan perusakan fasilitas umum stadion menjadi catatan hitam yang disesalkan oleh federasi.

Arya menyayangkan sikap anarkis yang merusak infrastruktur, terutama di wilayah yang fasilitas olahraganya masih sangat terbatas dan minim.

"Ini yang kita harapkan, mudah-mudahan. Ini perangkat pertandingan dikejar-kejar, semua dikejar-kejar, infrastruktur stadion dirusak. Mereka tidak tahu di luar Pulau Jawa itu stadion saja tidak ada, sangat disayangkan punya stadion seperti itu," jelas Arya.

Pihak keamanan internal federasi kini tengah merumuskan skema yang lebih ketat untuk mengantisipasi gejolak di sisa jadwal liga.

Langkah ini juga mencakup pengawasan terhadap kompetisi di berbagai kasta, termasuk persaingan menuju promosi yang tak kalah sengit.

"Ini yang sedang kami diskusikan dengan ketat, mulai dari Pak Rudy dari keamanan juga sangat ketat melakukan diskusi membicarakan lebih detail mengenai kondisi ini. Karena menuju akhir-akhir kompetisi sedikit rawan, baik dari Super League maupun Championship karena masalah promosi," urainya.

Intensitas persaingan di papan atas dan papan bawah klasemen memerlukan perhatian ekstra dari segi pengamanan dan regulasi suporter.

Jika pola kerusuhan ini tidak kunjung membaik, maka opsi tanpa penonton tamu akan tetap menjadi pilihan utama federasi.

"Super League ketat sekali di atas, di bawah pun juga dekat. Maksudnya yang di atas mau juara, yang di bawah tidak mau degradasi. Jadi, harus ada perhatian khusus," terangnya.

PSSI tidak akan memberikan toleransi jika budaya disiplin tidak kunjung tumbuh di kalangan pecinta sepak bola nasional tersebut.

Ketegasan ini merupakan bentuk tanggung jawab federasi dalam menjaga marwah sepak bola Indonesia di mata dunia internasional.

"Untuk musim depan? Kalau seperti ini terus, jangan salahkan federasi ketika itu diterapkan," papar Arya memberikan peringatan keras.

Rasa malu muncul ketika fasilitas stadion seperti kursi dan tribun dirusak hanya karena luapan emosi sesaat yang tidak terkendali.

"Karena kita tidak bisa disiplin dan tidak bisa menunjukkan bahwa kita mampu untuk itu, malu. Kita setiap pertandingan kursi di lempar-lempar, dibongkar, apa itu," pungkasnya.

Federasi berharap seluruh elemen suporter dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pertandingan yang aman bagi siapa saja.

Load More