- Jurnalis Tijmen van Wissing mengkritik pemain keturunan Indonesia di Belanda karena melepas kewarganegaraan demi membela Timnas Indonesia.
- Perubahan status menjadi non-Uni Eropa menyulitkan karier pemain karena harus mematuhi regulasi ketat di kompetisi sepak bola Belanda.
- Pemain seperti Justin Hubner dan Tim Geypens kini menghadapi risiko kehilangan paspor Belanda serta hambatan karier di Eropa.
Suara.com - Isu naturalisasi pemain keturunan Indonesia kembali jadi perbincangan panas di Belanda. Sejumlah pemain yang memilih melepas kewarganegaraan Belanda kini mendapat sorotan tajam, terutama terkait dampak besar terhadap karier mereka di Eropa.
Jurnalis RTV Oost, Tijmen van Wissing, menjadi salah satu yang paling keras mengkritik fenomena ini. Ia menilai keputusan para pemain tersebut diambil tanpa pertimbangan matang.
Komentar tersebut mencuat di tengah ramainya isu “paspoortgate” yang menyeret sejumlah pemain keturunan Indonesia di kompetisi Belanda.
Nama-nama seperti Justin Hubner, Dean James, Tim Geypens, hingga Nathan Tjoe-A-On ikut menjadi sorotan.
Perubahan kewarganegaraan membuat para pemain kini berstatus non-Uni Eropa. Hal ini berdampak langsung pada regulasi yang harus mereka penuhi untuk bisa bermain di kompetisi Belanda, yang dikenal cukup ketat bagi pemain non-UE.
Menurut Van Wissing, para pemain dan agen mereka dinilai kurang memperhitungkan risiko jangka panjang dari keputusan tersebut.
"Saya pikir itu jauh lebih bodoh. Para pemain dan agen mereka seharusnya memikirkannya dengan matang, jangan terburu-buru," kata Van Wissing, dikutip dari De Oosttribune.
Ia juga menegaskan bahwa salah satu konsekuensi terbesar adalah hilangnya paspor Belanda, yang selama ini memberikan banyak keuntungan bagi karier pemain di Eropa.
“Aturannya menyatakan bahwa jika Anda memperoleh kewarganegaraan lain, Anda akan kehilangan paspor Belanda,” lanjutnya.
Baca Juga: Kata-kata Pelatih Sassuolo Usai Jay Idzes Jadi Pemain Terbaik Indonesia
Selain itu, Van Wissing turut menyoroti kondisi pemain muda FC Emmen, Tim Geypens. Ia menilai sang pemain menjadi salah satu yang terdampak dari gelombang naturalisasi ini.
“Geypens seharusnya tidak tertipu oleh kampanye itu. Memang bagus mereka terbang ke sana, tetapi itu hanya berujung pada kesengsaraan,” pungkasnya.
Isu 'paspoortgate' pun kini menjadi perdebatan luas. Di satu sisi, naturalisasi dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat Timnas Indonesia.
Namun di sisi lain, keputusan tersebut menyimpan risiko besar bagi masa depan karier para pemain di kompetisi Eropa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Pati Kompak! Ratusan Ormas Deklarasi Damai di Alun-alun, Tegaskan Tolak Aksi Provokatif
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta
-
Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD
-
Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan
-
Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama
-
28 Tahun Berlalu, Luka Mei 1998 Kembali Disuarakan Lewat Lagu
-
Bayi 3 Bulan di OKU Terbaring di ICU, 11 Hari Setelah Diduga Dianiaya Ayah Kandung