-
Fares Ghedjemis berhasil menembus Serie A setelah sempat terpuruk di liga amatir Prancis.
-
Debut impresifnya bersama Timnas Aljazair ditandai dengan gol perdana melawan timnas Guatemala.
-
Ghedjemis menjadi inspirasi bagi pemain muda untuk tetap percaya diri meski menghadapi penolakan.
Suara.com - Fares Ghedjemis membuktikan bahwa penolakan klub profesional bukanlah akhir dari segalanya bagi seorang pesepak bola berbakat. Winger lincah ini bertransformasi dari pemain liga amatir Prancis menjadi bintang yang kini siap mengguncang panggung Serie A.
Lompatan kariernya sangat fenomenal karena ia hanya butuh 18 bulan untuk naik dari kasta kelima menuju liga elit. Ia mengabaikan jalur konvensional akademi setelah sempat ditolak oleh Troyes dan Le Havre empat tahun silam.
Ketangguhan mental Ghedjemis terlihat saat ia memilih membangun ulang reputasinya di klub-klub kecil seperti Evreux dan Vannes. Di tengah kerasnya kompetisi kasta bawah, ia berhasil mencetak angka statistik yang memikat mata pemandu bakat internasional.
“Dapat dikatakan bahwa jalur karier saya cukup tidak konvensional. Itu tentu saja bukan perjalanan yang mulus,” aku sang pemain sambil tersenyum. “Saya memutuskan untuk melakukannya sendiri.”
Strategi "mundur satu langkah untuk maju sepuluh langkah" ini menjadi kunci keberhasilan Ghedjemis menembus dominasi pemain akademi. Kini, namanya masuk dalam radar pelatih Vladimir Petkovic untuk memperkuat Aljazair di turnamen dunia mendatang.
Ghedjemis tidak terburu-buru mengejar kemewahan klub besar Eropa saat kariernya berada di titik nadir. Ia secara sadar merancang peta jalan kariernya melalui divisi National 2 untuk mengasah kemampuan fisiknya secara mandiri.
“Pada saat itu, saya tahu persis apa yang ingin saya lakukan,” jelasnya. “Idenya adalah bekerja keras dari National 2 ke National, dan kemudian pindah ke sepak bola profesional.”
Keberaniannya membuahkan hasil saat FC Rouen meminangnya, namun kompetisi kasta ketiga Prancis ternyata terlalu kecil bagi talentanya. Hanya dalam waktu singkat, klub Serie A Frosinone datang memberikan tawaran kontrak profesional yang selama ini ia impikan.
Proses adaptasi di Italia tidaklah mudah bagi pemain yang besar di lingkungan sepak bola Prancis yang sangat berbeda. Ia harus mengatasi hambatan bahasa dan gaya permainan taktis yang menjadi ciri khas pertahanan ketat liga Italia.
Baca Juga: Ole Gunnar Solskjaer Bikin Brasil Tersungkur di Piala Dunia tapi Terusir dari Timnas
“Itu tidak mudah, itu sudah pasti. Itu berarti pindah ke negara baru. Tim berkomunikasi sebagian besar dalam bahasa Italia daripada bahasa Inggris, jadi saya harus mempelajari bahasa tersebut dengan cepat. Meski begitu, saya gila sepak bola. Bermain di Serie A, berkompetisi di liga itu, sangat berarti bagi saya. Cukup mudah untuk beradaptasi, berkat sepak bola,” ungkapnya.
Puncak dari kerja kerasnya terjadi pada Maret lalu saat ia mengenakan seragam tim nasional Aljazair untuk pertama kalinya. Debutnya sangat emosional karena ia masuk menggantikan Riyad Mahrez, sosok yang menjadi inspirasi utamanya dalam berkarier.
“Sangat membanggakan bisa bermain bersama pemain-pemain top. Yang paling penting, sungguh emosional bisa mewakili negara saya, dan juga negara orang tua saya,” tuturnya dengan bangga.
Hanya butuh 15 menit bagi Ghedjemis untuk mencetak gol perdananya saat Aljazair melumat Guatemala dengan skor telak tujuh gol tanpa balas. Performa ini membuatnya dianggap sebagai aset masa depan yang mampu menjaga regenerasi lini serang tim berjuluk Fennecs tersebut.
Ambisi besarnya kini tertuju pada turnamen akbar tahun 2026 yang akan diselenggarakan di wilayah Amerika Utara. Ghedjemis sudah membayangkan momen ini sejak kecil, menghitung usia idealnya untuk bisa tampil di panggung sepak bola tertinggi.
“Saya selalu bermimpi bermain di turnamen tersebut. Sebagai seorang anak, Anda menghitung berapa usia Anda saat menjadi profesional, dan berapa usia Anda sebelum bisa bermain di Piala Dunia. Bagi saya, itu adalah tahun 2026, atau mungkin setelah itu,” tambahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Hasil MLSC All-Stars 2026: Lewat Duel Sengit, Kudus Melaju ke Final Usai Taklukkan Surabaya
-
Heboh Video Kylian Mbappe Nyuruh Wasit Kasih Ban Kapten Tchouameni, Ternyata Ini Alasannya
-
Iran di Ujung Tanduk! Ini Skenario Team Melli Lolos atau Tersingkir dari Piala Dunia 2026
-
Rudi Garcia Puji Peran Pemain Senior Usai Belgia Tekuk Selandia Baru 5-1
-
Kecewa Indonesia Tak ke Piala Dunia 2026, Van der Sar Kagum Suporter MU Cilik Tanah Air
-
Pelatih Norwegia Akui Kehebatan Ousmane Dembele: Sentuhan Bolanya Begitu Sempurna
-
Zico Ingatkan Timnas Brasil Waspadai Kekuatan Jepang di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
-
Akhir Tragis Irak: Dulu Bantai Timnas Indonesia, Berakhir Bulan-bulanan di Piala Dunia 2026
-
Piala Dunia 2026: Ousmane Dembele Menggila, Perancis Gasak Norwegia 4-1 dan Puncaki Klasemen
-
Brasil Tangguh! Timnas Futsal Indonesia U-17 Digelontor Sembilan Gol di Spanyol