-
Amerika Serikat dikritik sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 karena minimnya antusiasme publik.
-
Harga tiket pertandingan yang sangat mahal memicu keluhan massal dari para penggemar sepak bola.
-
Format tiga negara penyelenggara dianggap menciptakan kerumitan logistik dan pembengkakan biaya bagi penonton.
Suara.com - Gelaran Piala Dunia 2026 terancam menjadi turnamen paling hambar sepanjang sejarah akibat kegagalan Amerika Serikat membangun atmosfer sepak bola yang kuat. Meski diikuti 48 tim, publik justru melabeli Amerika Serikat sebagai tuan rumah terburuk karena dianggap gagal menciptakan demam turnamen menjelang sepak mula.
Sentimen negatif ini mencuat di tengah minimnya promosi dan rendahnya minat warga lokal terhadap olahraga sepak bola. Banyak pihak menilai ekspansi peserta dan lokasi pertandingan justru merusak esensi kegembiraan yang biasanya melekat pada ajang empat tahunan ini.
Kritik pedas merambah jagat maya dengan narasi bahwa tidak ada gairah sama sekali menjelang turnamen dimulai pada Juni mendatang. Pengguna media sosial bahkan menyebutkan bahwa masyarakat lebih menantikan cabang olahraga lain dibandingkan kompetisi FIFA ini.
"Amerika Serikat lebih antusias soal flag football di Olimpiade 28 daripada mereka terhadap Piala Dunia," tulis salah satu pengguna X, dikutip dari boredpanda.
Komentar ini mencerminkan betapa dinginnya sambutan publik di negara yang sebelumnya pernah menjadi tuan rumah pada tahun 1994 tersebut. Realitas ini berbanding terbalik dengan ekspektasi FIFA yang menargetkan ledakan penonton global di tiga negara penyelenggara.
"Sejujurnya, saya tidak ingat kita menjadi tuan rumah Piala Dunia sampai Anda menyebutkannya," sahut netizen lainnya menanggapi keluhan tersebut.
Guna memecah keheningan, FIFA menyiapkan skema pembukaan megah yang tersebar di Mexico City, Toronto, hingga Los Angeles. Sejumlah bintang pop internasional seperti Katy Perry dan Michael Bublé dijadwalkan tampil untuk menarik minat massa di luar penggemar bola.
"Piala Dunia FIFA adalah momen yang dibagikan dunia dan itu dimulai dengan bagaimana kita membukanya," ujar Presiden FIFA Gianni Infantino.
Infantino bersikeras bahwa perpaduan budaya dan musik akan menyatukan identitas unik dari masing-masing negara penyelenggara tahun ini. Pertunjukan musik ini diharapkan mampu menutupi kekosongan antusiasme yang saat ini menjadi sorotan tajam pengamat olahraga internasional.
Baca Juga: 12 Tim Calon Juara Piala Dunia 2026 dari Masing-masing Grup, Messi vs Ronaldo Bisa Terjadi
"Dimulai dengan Mexico City dan berlanjut pada hari-hari berikutnya dengan Toronto dan Los Angeles, upacara ini akan menyatukan musik, budaya, dan sepak bola dengan cara yang mencerminkan individualitas setiap bangsa dan persatuan yang mendefinisikan turnamen ini," tambah Infantino.
Di balik kemilau panggung pembukaan, isu harga tiket yang melambung tinggi menjadi penghalang utama bagi para penggemar setia. Sebagian besar tiket pertandingan dilaporkan masih belum terjual karena harganya dianggap tidak masuk akal bagi masyarakat umum.
Bahkan, tokoh publik sekelas Donald Trump secara terang-terangan menolak untuk merogoh kocek demi menyaksikan pertandingan di stadion. Saat ditanya tentang harga tiket empat digit untuk menonton pertandingan pertama Amerika Serikat, Presiden Donald Trump berkata, "Saya tidak akan membayarnya."
Keputusan FIFA menetapkan harga pasar hiburan kelas atas di Amerika Serikat justru menjadi senjata makan tuan bagi keterisian kursi. "Kita harus melihat pasar — kita berada di pasar di mana hiburan paling berkembang di dunia," bela Infantino terkait mahalnya biaya masuk. "Jadi kita harus menerapkan tarif pasar."
Laporan dari sektor perhotelan menunjukkan angka pemesanan yang berada jauh di bawah ekspektasi awal para pelaku industri. Banyak pemilik hotel di kota-kota penyelenggara mulai merasa cemas dan menyebut turnamen ini sebagai acara yang tidak berdampak.
Alan Fyall dari University of Central Florida menyebutkan bahwa pembagian lokasi di 16 kota adalah sebuah mimpi buruk logistik. "Ini lebih tersebar, lebih mahal, dan perjalanan lebih rumit," ringkasnya mengenai tantangan yang dihadapi para suporter.
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Timnas Futsal Indonesia Diundang Cupa Del Mundo 2026, Bakal Tantang Brasil
-
Masih Banyak Pelatih Lain! Legenda Real Madrid Tolak Mourinho Balik ke Bernabeu
-
Dapat Tawaran Menggiurkan Bernardo Silva Telepon Ronaldo Kulik-kulik Soal Juventus
-
Kurniawan Dwi Yulianto Minta Maaf usai Timnas Indonesia U-17 Gagal ke Piala Dunia 2026
-
Pelatih Yordania Berharap Lionel Messi Tampil di Piala Dunia 2026
-
Rizky Ridho Pastikan Hubungannya dengan Beckham Putra Masih Bersahabat Usai Persija vs Persib
-
Petinggi Garudayaksa FC Resmi Ditunjuk sebagai Chairman Baru Oxford United
-
Maurizio Sarri Jelang Inter vs Lazio di Final Coppa Italia: Mentalitas Lebih Penting dari Taktik!
-
Kangkangi Lazio di Serie A Bukan Jaminan Inter Milan Juara Coppa Italia, Begini Kata Cristian Chivu
-
Rizky Ridho Akui Musim Ini Persija Jauh dari Harapan