-
Timnas Belanda menargetkan diri untuk menjadi juara baru pada gelaran Piala Dunia 2026.
-
Denzel Dumfries menilai skuad De Oranje saat ini jauh lebih kuat dibandingkan empat tahun lalu.
-
Evaluasi kekalahan dari Argentina memicu Belanda untuk mengadopsi agresivitas ala sepak bola Amerika Selatan.
Filosofi akademi sepak bola Belanda memang sangat kuat dalam melatih aspek teknis dan akurasi umpan antarpemain. Namun, aspek emosional dan determinasi tinggi di lapangan dianggap menjadi kepingan taktik yang masih hilang.
“Beberapa pemain sangat bagus saat menguasai bola, yang lain membawa keterampilan berbeda. Saya pikir kami memiliki perpaduan yang seimbang, tetapi ketika harus memberikan dorongan dan intensitas kepada tim, saya pikir di situlah peran saya," tutur Dumfries.
"Ini juga merupakan bagian dari cara bermain Belanda. Kami sangat bagus dalam menjaga penguasaan bola dan mengoper kepada orang yang tepat. Itu adalah sesuatu yang mereka fokuskan di akademi dan juga cara Anda menerima bola. Namun, saya pikir orang Belanda bisa belajar satu atau dua hal dari negara-negara Amerika Selatan terkait agresivitas dan gairah. Kami bisa membuat kemajuan di sana, tetapi cara bermain Belanda sangat didasarkan pada penguasaan bola, memilih momen yang tepat, dan memastikan ada ruang untuk rekan setim Anda. Jika itu semua bagus, maka kami akan memiliki tim Belanda yang sempurna.”
Di luar urusan taktis, figur pemimpin di ruang ganti memegang peranan vital dalam menjaga stabilitas tim. Kehadiran sosok bek tangguh di lini pertahanan menjadi jangkar kepemimpinan yang memberikan rasa aman bagi seluruh pemain.
“Dia adalah pemimpin kami, tentu saja. Apa yang sangat saya kagumi dari dia adalah dia selalu fokus penuh di setiap pertandingan. Dia adalah teladan bagi semua orang. Dia selalu memimpin di depan dan menjaga kami tetap fokus. Dia sangat menuntut dalam hal memastikan semua orang mengikuti teladannya. Dia adalah pemimpin tim dan itu memberikan kepercayaan diri kepada pemain lain.”
Selain fokus memburu prestasi di lapangan hijau, turnamen yang digelar di Amerika Utara ini juga memicu rasa penasaran budaya. Dumfries berharap bisa memanfaatkan waktu senggangnya untuk mengenal lebih dekat dinamika sosial masyarakat setempat.
“Saya sangat penasaran dengan Texas. Saya telah mendengar banyak cerita tentangnya dan saya ingin melihat budayanya. Kami tidak akan melihat banyak hal karena kami sibuk bermain, tetapi di waktu luang kami, saya ingin mengenal lebih banyak tentang budaya dan masyarakat Texas.”
Dukungan masif dari para suporter setia yang identik dengan warna jingga juga menjadi faktor pembeda yang sangat dinantikan. Kehadiran penonton fanatik di tribun diyakini akan memberikan suntikan energi masif selama turnamen berlangsung.
“Fans Belanda dikenal karena gairah dan kegembiraan yang mereka bawa, jadi saya mengharapkan hal yang sama tahun ini. Di semua turnamen yang kami mainkan, sangat menyenangkan melihat orang-orang Belanda. Tentu saja jaraknya jauh, tapi kami memiliki perasaan yang luar biasa dengan para penggemar. Saya harap mereka akan mendukung kami seperti biasanya. Saya selalu menikmati hubungan yang kami miliki dengan mereka dan bagi orang-orang yang tinggal di Amerika Serikat, akan menyenangkan melihat warna oranye di mana-mana. Mari bawa getaran oranye ke AS.”
Baca Juga: Harry Kane Bangga Kembali Bela Timnas Inggris, akan Tampil di 3 Edisi Piala Dunia
Timnas Belanda memiliki sejarah panjang yang heroik sekaligus tragis dalam sejarah gelaran Piala Dunia. Negara kincir angin ini tercatat sudah tiga kali menembus partai final pada tahun 1974, 1978, dan 2010, namun selalu gagal membawa pulang trofi juara.
“Saya melihat pertandingan tahun 2010 itu, tentu saja. Final itu menyakitkan," kenang Dumfries.
"Saya masih kecil saat itu dan saya menangis ketika Belanda kalah. Saya sedang berlibur di Suriname menonton di pinggir kolam renang bersama seluruh keluarga. Itu adalah momen-momen ketika Anda menyadari bahwa Anda bisa mencapai sesuatu yang hebat. Belanda adalah negara yang dianggap sebagai penantang piala.”
Kegagalan menyakitkan di masa lalu, termasuk memori final Afrika Selatan 2010, kini menjadi warisan sejarah yang ingin diubah oleh generasi Dumfries. Dengan perpaduan taktik penguasaan bola yang matang dan tambahan intensitas bermain, Belanda menatap Piala Dunia 2026 bukan lagi sekadar sebagai partisipan, melainkan sebagai calon tunggal penguasa takhta sepak bola dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
AS Tak Peduli Kritik! Petugas ICE Akan Tetap Sweeping Selama Piala Dunia 2026
-
Lionel Messi Absen di Piala Dunia 2026? La Pulga Kesakitan Minta Diganti
-
Pep Guardiola Beri Peringatan Keras ke Skuad Man City Sebelum Angkat Kaki
-
Sir Alex Ferguson vs Pep Guardiola: Siapa Manajer Terbaik dalam Sejarah Premier League?
-
Harry Maguire Tersingkir, Rooney Curiga Ada Alasan Lain di Balik Pilihan Tuchel
-
Tuchel Tegas: Pemain Egois Tak Pantas Bela Inggris di Piala Dunia, Sindir Siapa?
-
Mohamed Salah Pecahkan Rekor Assist Steven Gerrard di Liverpool
-
Kata-kata Bruno Fernandes usai Pecahkan Rekor Assist Liga Inggris
-
Tegaskan Harry Kane Bertahan, Bos Bayern Munich: Lagi Pula Barcelona Tidak Punya Uang
-
Timnas Iran Tinggalkan AS Jelang Piala Dunia 2026, Faktor Keamanan Jadi Sorotan