-
Timnas Belanda menargetkan diri untuk menjadi juara baru pada gelaran Piala Dunia 2026.
-
Denzel Dumfries menilai skuad De Oranje saat ini jauh lebih kuat dibandingkan empat tahun lalu.
-
Evaluasi kekalahan dari Argentina memicu Belanda untuk mengadopsi agresivitas ala sepak bola Amerika Selatan.
Suara.com - Timnas Belanda mengusung misi besar untuk memutus kutukan spesialis runner-up di panggung tertinggi sepak bola. Ambisi tersebut didorong oleh hasrat mendalam untuk menebus kegagalan menyakitkan pada edisi turnamen sebelumnya di Qatar.
Bek sayap andalan De Oranje, Denzel Dumfries, menegaskan bahwa timnya kini berada dalam kondisi yang jauh lebih matang. Evaluasi total telah dilakukan demi mengubah kekuatan mental tim menjadi modal utama dalam memburu gelar.
"Kami telah menetapkan beberapa tujuan besar untuk Piala Dunia ini. Kami sekarang jauh lebih baik daripada empat tahun lalu dan kami harus menunjukkannya," ujar bek sayap lincah tersebut, dikutip dari laman FIFA.
"Kami hanya punya satu tujuan, tentu saja, yaitu menjadi juara dunia. Kami ikut serta untuk menang dan juga memiliki pemain untuk itu, tetapi itu adalah sesuatu yang harus kami tunjukkan dari pertandingan ke pertandingan. Itu tidak mudah, tentu saja, tetapi kami akan melakukan semua yang kami bisa dan saya mempercayainya.”
Trauma kekalahan dramatis lewat adu penalti melawan Argentina di perempat final edisi lalu masih menyisakan luka. Kendati demikian, memori kelam tersebut kini ditransformasikan menjadi bahan bakar motivasi yang melipatgandakan semangat juang.
Dumfries mengakui bahwa kegagalan tersebut merupakan pil pahit yang sangat sulit untuk ditelan oleh seluruh elemen tim. Namun, momen krusial itu sekaligus menjadi titik balik penting bagi kebangkitan mentalitas bertanding skuad Belanda.
"Saya tidak suka melihat ke belakang, tentu saja, dan saya pikir fans Belanda tidak suka melihat ke belakang," aku Dumfries.
"Untuk fans netral, itu adalah pertandingan yang hebat. Itu seperti rollercoaster. Pada akhirnya, Argentina keluar sebagai pemenang dan mereka menjadi juara dunia baru. Itu adalah pil pahit karena kami tersingkir, tapi itu pasti menjadi motivasi ekstra bagi para pemain untuk mewujudkan tujuan kami kali ini.”
Bagi pemain Inter Milan ini, kesempatan mengenakan seragam oranye di kompetisi global merupakan pencapaian tertinggi kariernya. Atmosfer kompetisi empat tahunan ini selalu menghadirkan kebanggaan yang luar biasa bagi dirinya.
Baca Juga: Harry Kane Bangga Kembali Bela Timnas Inggris, akan Tampil di 3 Edisi Piala Dunia
“Ini adalah acara olahraga terbesar. Sangat fantastis untuk ambil bagian di dalamnya bersama Belanda dan saya sangat menantikannya," katanya.
"Ini adalah pencapaian tertinggi yang bisa Anda raih. Ini akan menjadi Piala Dunia kedua saya dan yang sebelumnya sudah terasa spesial, dengan perasaan berada di sana bersama-sama. Untuk dapat tampil di sana bersama-sama empat tahun sekali adalah perasaan yang fantastis. Hal ini membuat saya bangga menjadi bagian dari kelompok hebat ini dan mewakili Belanda di Piala Dunia.”
Kedewasaan bermain yang diperoleh dari kerasnya kompetisi profesional membawa perspektif baru bagi Dumfries. Ia memahami bahwa turnamen besar menuntut kesempurnaan dan fokus mutlak pada setiap detail kecil di lapangan.
“Saya belajar bahwa Anda ambil bagian untuk menang. Realitas olahraga profesional adalah jika Anda tidak menang, Anda keluar. Anda bisa mengemas koper Anda dan pulang. Itu adalah pelajaran yang keras. Saya juga belajar bahwa Anda harus menikmatinya. Anda berada di sana bersama para penggemar. Anda ingin mencapai target tertinggi bersama-sama, tetapi setiap detail kecil harus tepat agar Anda bisa terus melaju. Itu adalah sesuatu yang telah kami pelajari dan akan kami bawa ke turnamen ini.”
Gaya permainan khas Belanda yang mengagungkan penguasaan bola dinilai masih memerlukan suntikan karakter baru. Dumfries melihat ada aspek krusial dari sepak bola modern yang harus segera diadopsi oleh timnya.
“Saya pikir kekuatan, agresivitas, dan intensitas adalah karakteristik yang saya miliki di lapangan. Seiring bertambahnya usia, Anda akan mengenal diri sendiri dengan lebih baik, tetapi itu adalah sesuatu yang selalu saya miliki. Saya selalu ingin menang dan memimpin pertempuran, mencoba membuat rekan setim saya melakukan hal yang sama. Itu adalah tipe pribadi saya. Saya tidak memikirkannya. Itu terjadi begitu saja. Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah hilang.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
AS Tak Peduli Kritik! Petugas ICE Akan Tetap Sweeping Selama Piala Dunia 2026
-
Lionel Messi Absen di Piala Dunia 2026? La Pulga Kesakitan Minta Diganti
-
Pep Guardiola Beri Peringatan Keras ke Skuad Man City Sebelum Angkat Kaki
-
Sir Alex Ferguson vs Pep Guardiola: Siapa Manajer Terbaik dalam Sejarah Premier League?
-
Harry Maguire Tersingkir, Rooney Curiga Ada Alasan Lain di Balik Pilihan Tuchel
-
Tuchel Tegas: Pemain Egois Tak Pantas Bela Inggris di Piala Dunia, Sindir Siapa?
-
Mohamed Salah Pecahkan Rekor Assist Steven Gerrard di Liverpool
-
Kata-kata Bruno Fernandes usai Pecahkan Rekor Assist Liga Inggris
-
Tegaskan Harry Kane Bertahan, Bos Bayern Munich: Lagi Pula Barcelona Tidak Punya Uang
-
Timnas Iran Tinggalkan AS Jelang Piala Dunia 2026, Faktor Keamanan Jadi Sorotan