Bola / Bola Dunia
Kamis, 04 Juni 2026 | 08:36 WIB
Otoritas Israel memperpanjang penahanan pemain tim nasional sepak bola putri Palestina, Rand Halawani, setelah ia dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di Yerusalem. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Otoritas Israel memperpanjang penahanan atlet timnas sepak bola putri Palestina, Rand Halawani, sejak Selasa malam di Yerusalem.
  • Militer Israel menangkap Halawani bersama Natalie Abu Diyeh dan tiga perempuan lain atas tuduhan keterlibatan aktivitas terorisme.
  • Asosiasi Sepak Bola Palestina dan Universitas Birzeit mengecam penangkapan tersebut sebagai bagian dari pola sistematis penindakan atlet.

Suara.com - Otoritas Israel memperpanjang penahanan pemain tim nasional sepak bola putri Palestina, Rand Halawani, setelah ia dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di Yerusalem.

Penahanan pesepak bola berusia 20 tahun itu menuai kecaman dari Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA).

Halawani ditangkap pada Selasa (2/6/2026) malam bersama sejumlah perempuan lainnya.

Pengadilan Israel pada Rabu memutuskan untuk memperpanjang masa tahanan Halawani hingga Jumat.

Keputusan ini memperkuat kekhawatiran atas perlakuan terhadap atlet Palestina.

Dalam pernyataannya, PFA menilai penangkapan tersebut bukan kasus tunggal.

“Ini bukan insiden terpisah, melainkan bagian dari pola sistematis yang menargetkan atlet Palestina tanpa akuntabilitas,” demikian pernyataan resmi PFA. 

Otoritas Israel memperpanjang penahanan pemain tim nasional sepak bola putri Palestina, Rand Halawani, setelah ia dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di Yerusalem. [Istimewa]

Selain Halawani, militer Israel juga menahan mantan pemain timnas Palestina, Natalie Abu Diyeh, yang kini berstatus mahasiswa di Universitas Birzeit.

Tiga perempuan muda lainnya turut ditangkap di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Baca Juga: Dinilai Ilegal Dunia Internasional, Israel Ngotot Bangun Permukiman Besar-besaran di Tepi Barat

Pihak militer Israel menyatakan para perempuan tersebut diduga terlibat dalam aktivitas yang mempromosikan terorisme.

Namun, tuduhan ini dibantah oleh sejumlah pihak Palestina.

Universitas Birzeit mengecam keras penangkapan tersebut.

Mereka menilai tindakan itu sebagai bagian dari kebijakan sistematis yang menghambat pendidikan dan hak mahasiswa Palestina.

Uskup Imad Haddad dari Gereja Lutheran Injili di Yordania dan Tanah Suci juga menyerukan pembebasan Abu Diyeh.

“Kami sangat terkejut dan ngeri, terlebih keluarganya belum mengetahui keberadaannya,” ujarnya.

Load More