Bola / Bola Dunia
Rabu, 10 Juni 2026 | 12:58 WIB
Thomas Tuchel menolak menyebut Timnas Inggris sebagai favorit juara Piala Dunia 2026. Ia memilih status penantang meski tetap bermimpi mengangkat trofi. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Thomas Tuchel menegaskan Timnas Inggris bukan favorit utama juara Piala Dunia 2026 karena belum meraih gelar dunia selama 60 tahun.
  • Meski demikian, Tuchel memastikan The Three Lions tetap datang dengan target besar untuk memperebutkan trofi juara.
  • Pelatih asal Jerman itu meminta pemain fokus pada proses dan langkah demi langkah untuk mencapai puncak prestasi di turnamen.

Tuchel ingin para pemain fokus pada setiap pertandingan tanpa terbebani ekspektasi berlebihan.

"Kami melihat diri kami sebagai kompetitor, sebagai penantang, kami ingin melangkah sejauh mungkin," tambahnya.

Baginya, mentalitas sebagai penantang justru dapat membantu tim tampil lebih lepas sepanjang turnamen.

Warisan Southgate dan Filosofi Mendaki Gunung

Tuchel juga memberikan apresiasi terhadap fondasi yang dibangun pendahulunya, Gareth Southgate.

Di bawah kepemimpinan Southgate, Inggris berhasil mencapai final Euro 2020 dan Euro 2024, serta semifinal Piala Dunia 2018.

"[Hasil-hasil itu] sangat relevan," ujar Tuchel.

Menurutnya, pencapaian tersebut membuktikan bahwa Inggris sudah berada di level elite dan memiliki kapasitas untuk menjadi juara.

"Jika Anda mencapai final di Euro, semifinal, perempat final di Piala Dunia, maka Anda sudah ada di sana dan bisa memenanginya," jelasnya.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Iran Ajukan Izin Khusus ke FIFA Pakai Ban Lengan Hitam Kontra Mesir, Apa Artinya?

Namun, ia tetap menilai sejarah panjang tanpa gelar membuat Inggris belum layak disebut favorit mutlak.

"Mungkin ini perbandingan yang salah, jika Anda pergi ke Wimbledon dan belum pernah memenanginya, atau 60 tahun lalu memenanginya, Anda mungkin bukan favorit," tuturnya.

Untuk menggambarkan pendekatannya, Tuchel menggunakan filosofi pendakian gunung.

"Jika kita ingin mencapai puncak gunung, kita harus memulai perjalanan selangkah demi selangkah dan pergi dari base camp ke base camp," paparnya.

Ia ingin para pemain tetap fokus pada proses dan tidak terjebak dalam euforia maupun tekanan di luar lapangan.

"Saya memiliki keyakinan, kami semua memiliki keyakinan dan mimpi, tetapi itu datang dengan tanggung jawab, kerja keras, komitmen, dan disiplin," tegasnya.

"Ini semua termasuk di dalamnya, tetapi kami berani bermimpi dan itu adalah hal yang penting," pungkas Tuchel.

Fokus pada Sepak Bola, Jauh dari Isu Politik

Di luar urusan teknis, Tuchel juga menanggapi isu penolakan visa wasit asal Somalia, Omar Artan, oleh pihak imigrasi Amerika Serikat.

Ia mengaku bersyukur karena Federasi Sepak Bola Inggris (FA) memberinya ruang untuk tetap fokus pada sepak bola.

"Ya, dan saya sangat berterima kasih kepada asosiasi karena mereka membiarkan saya memisahkan hal itu dan menjadi pelatih kepala," ucapnya.

Menurut Tuchel, fokus penuh terhadap sepak bola menjadi kunci jika Inggris ingin melangkah jauh di turnamen.

"Turnamen ini sudah cukup sulit jika kita hanya fokus pada sepak bola," tutup pelatih berusia 52 tahun tersebut.

Load More