- Federasi Sepak Bola Iran memprotes FIFA karena merasa diperlakukan tidak adil selama turnamen Piala Dunia 2026.
- Kebijakan pembatasan perjalanan dan masalah visa di Amerika Serikat mengganggu pemulihan fisik serta persiapan tim Iran.
- Timnas Iran yang bermarkas di Tijuana harus menempuh perjalanan melelahkan menuju lokasi pertandingan di Amerika Serikat.
Suara.com - Timnas Iran melayangkan protes keras kepada FIFA setelah merasa mendapat perlakuan yang tidak setara selama menjalani Piala Dunia 2026. Federasi Sepak Bola Iran bahkan berencana mengajukan keluhan resmi terkait pembatasan perjalanan yang dinilai mengganggu persiapan tim di tengah turnamen.
Kontroversi bermula ketika permohonan Iran untuk tiba di Los Angeles dua hari lebih awal sebelum menghadapi Belgia ditolak oleh otoritas terkait. Akibatnya, skuad Team Melli harus menjalani perjalanan lintas negara yang melelahkan dari Tijuana, Meksiko, menuju Amerika Serikat hanya sehari sebelum pertandingan.
Iran sebelumnya berencana menjadikan Arizona sebagai markas selama turnamen. Namun, karena pertimbangan keamanan, mereka akhirnya ditempatkan di Tijuana dan harus bolak-balik melintasi perbatasan setiap kali menjalani pertandingan di wilayah Amerika Serikat.
Kapten tim Mehdi Taremi mengungkapkan bahwa perjalanan udara sejauh sekitar 127 mil dari Tijuana ke Los Angeles justru memakan waktu hingga lima jam akibat pemeriksaan keamanan yang ketat.
Iran Sebut Jadi Tim Paling Dirugikan
Situasi tersebut memicu kemarahan pelatih Iran, Amir Ghalenoei. Ia menilai timnya menerima perlakuan yang tidak adil dibanding peserta lain di Piala Dunia 2026.
"Saya pikir tim ini mungkin adalah tim yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia," ujar Ghalenoei dikutip dari ESPN.
Federasi Sepak Bola Iran juga menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan prinsip kesetaraan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam kompetisi sepak bola terbesar di dunia itu.
Menurut mereka, pembatasan perjalanan dapat mengganggu proses pemulihan fisik pemain sekaligus mengurangi waktu persiapan taktis menjelang pertandingan penting melawan Belgia.
Baca Juga: Gol Kilat Ismael Saibari Bawa Maroko Tundukkan Skotlandia, Selangkah Lagi Lolos ke 32 Besar
"Kami adalah satu-satunya tim peserta Piala Dunia yang berada di kota tuan rumah hanya selama 24 jam dan itu tidak adil," tegas Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Iran, Hedayat Mombeini.
Ia menambahkan bahwa berbagai keterbatasan yang dialami tim berdampak langsung terhadap kondisi fisik maupun psikologis para pemain.
"Semua keterbatasan ini berdampak buruk bagi fisik dan hal-hal psikologis pada pemain kami," lanjutnya.
FIFA Dinilai Kurang Fleksibel
Di sisi lain, Kepala Gugus Tugas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut berkaitan dengan pertimbangan keamanan dan situasi geopolitik yang melibatkan kedua negara.
Secara teknis, aturan itu memang sejalan dengan regulasi FIFA Pasal 18.3 yang mengatur jadwal kedatangan tim ke lokasi pertandingan.
Berita Terkait
-
Haiti Jadi Negara Pertama yang Angkat Koper dari Piala Dunia 2026 Usai Digilas Timnas Brasil
-
Sejarah Baru! Brasil Salip Jerman Jadi Raja Gol Sepanjang Masa Piala Dunia Usai Lumat Haiti 3-0
-
Fakta Gila Maroko vs Skotlandia: Ismael Saibari Samai Rekor Mo Salah di Piala Dunia 2026
-
Piala Dunia 2026 Datang, Waktunya UMKM Panen Cuan Gila-gilaan dari Nobar!
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan