- Timnas Bangladesh menelan kekalahan tipis 0-1 dari Singapura pada pertandingan FIFA ASEAN Cup tanggal 28 September 2026.
- Pelatih Thomas Doley menyatakan bahwa masalah utama timnya adalah kegagalan penyelesaian akhir akibat tidak memiliki striker sempurna.
- Bangladesh menggunakan turnamen ini untuk mengidentifikasi kesalahan dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan selanjutnya di SAFF Championship.
Suara.com - Bangladesh kembali gagal meraih hasil positif pada FIFA ASEAN Cup 2026. Bermain melawan Singapura, Senin (28/9/2026), Bangladesh kalah 0-1 meski mampu memberikan perlawanan sengit sepanjang pertandingan.
Pelatih Bangladesh, Thomas Dooley, menilai timnya sebenarnya menunjukkan perkembangan dibandingkan pertandingan sebelumnya. Namun, masalah penyelesaian akhir kembali menjadi ganjalan utama.
Bangladesh beberapa kali mampu membawa bola hingga ke area pertahanan Singapura. Sayangnya, serangan yang dibangun Rakib Hossain dan Morsalin belum mampu menghasilkan gol.
Dooley tetap memberikan apresiasi terhadap perjuangan para pemainnya. Menurut dia, Bangladesh tampil sebagai tim yang lebih berani memainkan sepak bola dibandingkan pertandingan sebelumnya.
“Saya melihat tim yang berbeda dibandingkan pertandingan sebelumnya. Saya sangat senang dengan respons yang diberikan para pemain,” kata Doley dikutip Bangla Tribune
Pelatih berusia 65 tahun itu juga menilai Bangladesh sebenarnya memiliki peluang untuk mendapatkan hasil berbeda. Terutama pada 20 menit terakhir ketika beberapa peluang berhasil diciptakan di depan gawang Singapura.
“Jika kami bisa memanfaatkan peluang mencetak gol dalam 20 menit terakhir, mungkin hasilnya akan lebih positif bagi kami,” ujar Dooley.
Salah satu peluang yang disorot Dooley terjadi ketika Shamit Shome mendapatkan kesempatan melalui sundulan.
Namun, peluang tersebut gagal dimanfaatkan untuk mengubah kedudukan.
Doley juga puas dengan mentalitas para pemainnya.
Berbeda dari pertandingan sebelumnya, kali ini seluruh pemain dinilai memberikan kontribusi dalam bertahan dan berusaha memenangkan duel.
“Kami bertarung dengan 11 pemain, bukan seperti pertandingan sebelumnya. Semua pemain memahami bahwa jika kami berjuang dan tidak memberikan terlalu banyak ruang, kami bisa bersaing,” tuturnya.
Meski demikian, Doley tidak menutupi persoalan terbesar Bangladesh.
Menurutnya, tim masih membutuhkan pemain depan yang mampu menjadi penyelesai akhir dari peluang-peluang yang tercipta.
“Masalah terbesar kami adalah mencetak gol. Kami tidak memiliki striker nomor sembilan yang sempurna untuk memasukkan bola ke gawang,” kata Doley.