Erick Thohir Turun Tangan! Desak Polisi Usut Tuntas Penyerangan Bobotoh di Pakansari

Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:52 WIB
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memberikan tanggapan mengenai kritikan terhadap pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, usai menghadapi Malaysia pada pertandingan kedua FIFA ASEAN Cup 2026. [Suara/com/Rahman]
BACA 10 DETIK
  • PSSI meminta polisi mengusut tuntas penyerangan bersenjata tajam terhadap Bobotoh di Pakansari.

  • Erick Thohir menegaskan keselamatan suporter merupakan prioritas utama yang harus dijamin penegak hukum.

  • Kasus kekerasan di luar stadion diproses secara pidana, sementara pelanggaran internal dikenai sanksi disiplin.

Suara.com - Ketua Umum PSSI Erick Thohir meminta kepolisian mengusut tuntas kasus penyerangan terhadap suporter Persib Bandung, Bobotoh, yang terjadi setelah pertandingan melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (25/10/2026).

Insiden yang melibatkan orang tak dikenal bersenjata tajam tersebut menjadi perhatian serius PSSI. Erick menegaskan, keselamatan suporter harus menjadi prioritas dalam penyelenggaraan sepak bola Indonesia agar tidak ada lagi korban jiwa akibat aksi kekerasan.

"Suporter itu harus bisa pulang ke rumah dengan selamat," kata Erick menanggapi insiden penyerangan terhadap Bobotoh, Senin (26/10/2026).

Erick menilai setiap tindakan kriminal yang terjadi di lingkungan sepak bola harus ditangani sesuai ketentuan hukum. Jika kekerasan berlangsung di luar area pertandingan dan masuk ranah pidana, penanganannya menjadi kewenangan aparat penegak hukum.

Sementara itu, apabila terjadi pelanggaran disiplin atau bentrokan antarsuporter di dalam stadion, klub maupun kelompok pendukung dapat dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku. Hukuman tersebut bisa berupa sanksi disiplin hingga pengurangan poin bagi klub, bergantung pada jenis pelanggaran dan ketentuan yang diterapkan.

Menurut Erick, upaya menciptakan sepak bola yang aman membutuhkan kerja sama seluruh pihak. Klub, penyelenggara kompetisi, komunitas suporter, dan aparat keamanan harus menjalankan perannya masing-masing untuk mencegah kekerasan, baik di dalam maupun di luar stadion.

PSSI juga telah berkomunikasi dengan pihak kepolisian terkait insiden penyerangan Bobotoh di kawasan Stadion Pakansari. Erick menyebut pihaknya masih menunggu perkembangan penyelidikan untuk mengetahui secara jelas latar belakang kejadian tersebut.

PSSI berharap kepolisian dapat mengungkap motif penyerangan sekaligus memastikan pihak-pihak yang bertanggung jawab. Penyelidikan diperlukan untuk mengetahui apakah insiden itu merupakan tindak kriminal biasa atau berkaitan dengan persaingan antarsuporter.

Kejelasan mengenai motif dan identitas pelaku menjadi bagian penting dalam proses penegakan hukum. Dengan begitu, kasus kekerasan terhadap suporter dapat ditangani secara tuntas dan tidak berhenti tanpa pertanggungjawaban.

Erick mengungkapkan dirinya telah menghubungi kepala kepolisian resor yang menangani wilayah terkait untuk meminta penanganan perkara dilakukan secara tegas.

"Saya sudah menghubungi Kapolres terkait untuk meminta agar penanganan kasus dilakukan tegas," ujar pria yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan dorongan PSSI agar kasus penyerangan terhadap Bobotoh mendapat perhatian serius dari aparat. Meski demikian, penentuan motif, identitas pelaku, serta pertanggungjawaban pidana tetap menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

Erick juga mengingatkan bahwa keamanan suporter tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Seluruh pemangku kepentingan sepak bola perlu mengambil langkah nyata untuk mencegah kekerasan dan menciptakan suasana pertandingan yang kondusif.

Klub dan komunitas suporter diharapkan menjaga perilaku anggotanya serta menghindari tindakan yang berpotensi memicu bentrokan. Di sisi lain, penyelenggara kompetisi dan aparat keamanan perlu memastikan prosedur pengamanan berjalan sesuai kewenangan masing-masing.

PSSI berharap pengusutan kasus penyerangan Bobotoh di Pakansari dapat memberikan kejelasan hukum bagi para korban. Insiden tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendukung tim kesayangan dengan aman, tanpa dibayangi ancaman kekerasan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com