Bri / News
Jum'at, 08 Mei 2026 | 14:09 WIB
(Dok: BRI)
Baca 10 detik
  • BRI menyalurkan KUR sebesar Rp865,04 miliar kepada 18.870 debitur di NTT hingga April 2026 untuk memperkuat struktur ekonomi.
  • Sektor perdagangan besar dan eceran mendominasi penyerapan dana KUR BRI di NTT dengan total mencapai Rp511,42 miliar.
  • Penyaluran modal ini diharapkan membantu pelaku usaha mikro serta mendukung keberlanjutan sektor pertanian di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Suara.com - Peran perbankan plat merah, khususnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), semakin vital dalam memperkuat struktur ekonomi masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), BRI kembali mengukuhkan posisinya sebagai motor penggerak utama melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sangat masif di wilayah berjuluk Bumi Flobamora tersebut.

Hingga 30 April 2026, realisasi KUR di NTT tercatat mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 17,36 persen secara tahunan (year-on-year), dengan total mencapai Rp1,08 triliun. 

Sebagai bank yang memiliki akar kuat di segmen mikro, BRI mencatatkan angka penyaluran yang fantastis di NTT, yakni mencapai Rp865,04 miliar.

Dukungan permodalan ini telah mengalir kepada 18.870 debitur di seluruh penjuru NTT. Angka ini menegaskan bahwa sebagian besar pelaku usaha di NTT mengandalkan ekosistem BRI dalam mendapatkan akses pembiayaan yang terjangkau.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kemenkeu Provinsi NTT, Adi Setiawan, menjelaskan bahwa skema KUR Mikro menjadi instrumen yang paling diminati masyarakat dengan nilai mencapai Rp766,93 miliar bagi 19.312 debitur secara keseluruhan di NTT.

“Hingga April 2026, penyaluran KUR telah menjangkau 20.521 debitur, di mana Bank BRI menjadi penyalur terbesar yang menyentuh angka Rp865,04 miliar,” jelas Adi Setiawan di Kupang, Kamis (7/5/2026), dikutip dari Antara.

Melalui jaringan unit kerjanya yang luas, BRI mengarahkan permodalan ini ke sektor-sektor produktif. Sektor perdagangan besar dan eceran tercatat mendominasi penyerapan dana sebesar Rp511,42 miliar atau 48,01 persen. Hal ini mencerminkan tingginya aktivitas wirausaha di level akar rumput yang menjadi basis nasabah BRI.

Selain perdagangan, sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan (PPK) turut menjadi prioritas dengan serapan dana sebesar Rp209,12 miliar (19,23 persen).

Baca Juga: Pelajaran Persija Usai Dikalahkan Persib di Pertemuan Pertama, Mauricio Souza: Dilarang Kartu Merah

Peran BRI di sektor ini sangat krusial, mengingat kondisi Nilai Tukar Petani (NTP) di NTT yang mulai menunjukkan tren penipisan surplus di angka 100,27. Kehadiran modal kerja dari BRI diharapkan mampu menekan tekanan biaya usaha tani dan menjaga keberlanjutan produksi pangan lokal.

Secara geografis, Kota Kupang menjadi titik konsentrasi penyaluran modal terbesar dengan nilai Rp142,30 miliar, sementara wilayah kepulauan seperti Kabupaten Sabu Raijua terus didorong untuk meningkatkan serapan permodalannya.

BRI tidak hanya berperan sebagai penyedia modal, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam melakukan evaluasi dan monitoring efektivitas kredit.

Ke depan, penyaluran KUR, khususnya di sektor pertanian, akan semakin diintegrasikan dengan program pendampingan usaha dan akses pasar yang dikelola melalui ekosistem pemberdayaan BRI.

Load More