Bri / News
Jum'at, 14 Agustus 2026 | 16:25 WIB
Mantri BRI
Baca 10 detik
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk meraih peringkat ketiga perusahaan berpendapatan terbesar dan menjadi bank nomor satu di Indonesia pada daftar Fortune Indonesia 100 tahun 2026.
  • Keberhasilan BBRI didukung oleh implementasi strategi transformasi BRIvolution Reignite sehingga mampu mempertahankan laba bersih jumbo di tengah anomali profitabilitas perusahaan nasional.
  • Berdasarkan laporan kinerja keuangan Triwulan I 2026, total aset BBRI mencapai Rp2.250 triliun dan penyaluran kredit melesat 13,7 persen year-on-year.

Suara.com - Tingginya standar operasional dan tuntutan profitabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global memaksa emiten berkapitalisasi jumbo untuk terus berinovasi tanpa henti. 

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (kode saham: BBRI) tampil gemilang di Fortune Indonesia 100 edisi kelima tahun 2026, dengan mengamankan peringkat ketiga sebagai perusahaan dengan pendapatan terbesar di Indonesia.

Posisi prestisius di peringkat ketiga secara keseluruhan ini sekaligus menobatkan BBRI sebagai entitas perbankan dengan peringkat tertinggi.

Dengan kata lain, BRI resmi menjadi Bank Nomor 1 di Indonesia versi daftar bergengsi Fortune 100.

Pencapaian luar biasa emiten bersandi BBRI ini terjadi di tengah kondisi di mana syarat masuk ke dalam daftar elite tersebut semakin ketat setiap tahunnya. Berdasarkan evaluasi kinerja tahun fiskal 2025, ambang batas pendapatan minimum (barrier to entry) yang disyaratkan telah melonjak 7,85 persen menjadi Rp12,31 triliun.

Jika ditarik mundur ke edisi perdana yang menggunakan basis kinerja tahun 2021, batas bawah ini hanya berada di level Rp8,41 triliun. Realita ini mengindikasikan adanya pertumbuhan ganda atau compound annual growth rate (CAGR) sekitar 10 persen per tahun, yang merefleksikan betapa masif dan kompetitifnya perputaran modal di level puncak bisnis nasional.

Secara agregat, seratus korporasi yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional ini membukukan total pendapatan fantastis menyentuh Rp6.224,01 triliun.

Angka akumulasi tersebut mendominasi sekitar 26,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia tahun 2025 yang dipatok oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar Rp23.821,1 triliun.

Khusus untuk sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN), meskipun hanya diwakili oleh 19 entitas, kontribusinya sangat dominan dengan penguasaan porsi 50,32 persen dari total pendapatan seluruh perusahaan yang masuk dalam daftar pemeringkatan.

Baca Juga: BRI Pacu Ketahanan Pangan hingga Kucurkan Kredit Rp10,7 Triliun

Namun, tingginya angka pendapatan kotor sebuah korporasi rupanya tidak selalu berjalan lurus dengan efisiensi operasional perusahaan.

Dari total 100 emiten yang masuk dalam Fortune Indonesia 100, sebanyak 66 perusahaan tercatat berhasil mengerek pertumbuhan pendapatannya.

Ironisnya, hanya 49 entitas yang benar-benar sukses mempertahankan pertumbuhan laba bersih (bottom line), sementara 51 perusahaan lainnya justru harus menelan pil pahit berupa penyusutan laba di tengah naiknya pendapatan.

“Pertumbuhan topline belum otomatis diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba,” kata Hendra Soeprajitno, Editor-in-Chief Fortune Indonesia, melalui keterangan resminya.

Di tengah anomali profitabilitas yang melanda berbagai sektor industri tersebut, dominasi industri perbankan justru tidak terbendung. Tiga posisi teratas pencetak laba bersih terbesar di Indonesia disapu bersih oleh sektor perbankan nasional.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memimpin dengan raupan laba Rp57.537,29 miliar. Posisi tersebut ditempel sangat ketat oleh Bank Rakyat Indonesia di posisi kedua dengan laba bersih mencapai Rp56.652,38 miliar, lalu disusul oleh Bank Mandiri yang menempati posisi ketiga dengan perolehan laba sebesar Rp56.293,95 miliar.

Load More