/
Selasa, 06 Desember 2022 | 14:19 WIB
Putri Candrawathi yang mengaku kalau pahanya dipegang oleh Brigadir J, sebelum dieksekusi mati dengan cara ditembak. (Suara.com/Alfian Winanto)

"Saya dengar ada teriakan, saya turun, ternyata Yosua keluar. Saya tanya: ada apa bang? Dia langsung nembak," begitu jawab Bharada E ketika masih ikut dalam skenario Sambo.

Benny kemudian bertanya lagi kepada Bharada E tentang siapa saja yang emlihat saat itu.

"Waktu itu ada Kuat," timpal Bharada E.

Benny menjadi saksi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (6/12/2022) bagi terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.

Dugaan pelecehan yang dilakukan Brigadir J terhadap Putri Candrawathi masih belum bisa dibuktikan dan hal itu semakin kuat ketika dua orang art nya tidak pernah melihat kejadian itu. (sumber: Foto: Dok Suara.com/Rakha)

Dalam hal ini Hakim penasaran dengan posisi Putri pada saat itu. Benny mengatakan dia dan dan Kombes Susanto bertemu Putri di rumah pribadinya.

"Ibu PC di rumah Saguling," ungkap Benny.

Benny bertanya kepada Putri, terkait kejadian seperti apa sampai hal tersebut terjadi. Putri menangis dan menceritakan terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J.

"Bu Putri nangis waktu itu. Beliau sampaikan, bawa saat itu baru pulang dari Magelang, pakai celana pendek, istirahat di Duren Tiga, sedang santai. Jadi almarhum Yosua melaksanakan pelecehan. Sehingga beliau teriak," terang Benny.

Benny mengatakan kalau Putri mengaku pahanya dipegang-pegang oleh Brigadir J.

Baca Juga: Teka-Teki Wanita Rambut Pendek di Rumah Ferdy Sambo, Kamaruddin Simanjuntak Beberkan Si Cantik dan Piala Bergilir

"Dipegang-pegang (paha)," jawab Benny.

Tapi seiiring berjalannya pengungkapan kasus ini , dugaan tersebut dibantahan dan dihentikan oleh kepolisian karena tidak ada bukti yang menunjukan kalau itu benar-benar terjadi. Termasuk Bharada E yang Sudha merubah keterangannya dan bebrbalik melawan Ferdy Sambo. (*)

Sumber: Suara.com

Load More