/
Kamis, 09 Maret 2023 | 13:32 WIB
Ilustrasi hewan Kucing. Pemerintah Swedia dikabarkan memberikan izin untuk memburu Kucing Lynx. Namun hal itu dikecam dunia karena dianggap sebagai hiburan dan tidak etis. (Foto: Freepik)

SuaraCianjur.id- Beberapa pekan yang lalu pasca Skandinavia menyetujui pemusnahan serigala terbesar dalam sejarah modern, kini Pemerintah Swedia ikut mengeluarkan izin untuk berburu 201 kucing lynx di bulan Maret 2023.

Saat ini Pemerintah Swedia dikabarkan sudah memberikan pengesahan, tentang izin berburu kucing lynx atau kucing liar. Tentu saja keputusan tersebut mendapatkan kecaman dari dunia. 

Kendati demikian, pada kenyataanya populasi kucing liar atau kucing Lynx tersebut memang sudah hampir punah, terutama di benua Eropa. 

Menurut Svenska Jagareforbundet, ada alasan yang tidak logis dari keputusan pemerintah Swedia. Menurutnya perburan Kucing Lynx dianggap sebagai untuk hiburan semata. 

“Asosiasi pemburu di Swedia, perburuan Lynx tidak dilakukan karena hewan tersebut membahayakan manusia, melainkan hanya untuk hiburan semata,” kata dia.

Pada bulan yang lalu, tim konservasionis memberikan kabar kalau populasi lynx di negara Prancis jumlah turun secara drastis. Dari data disebutkan jumlah jadi 120 sampai 150 ekor.

Keputusan tersebut hanya utnuk meningkatkan minat turis atau pemburu, supaya mau datang ke Swedia dan mengikuti ‘perburuan trofi’.

Terkait akan hal itu, Svenska Rovdjursföreningen sebagai salah satu kelompok advokasi hak hewan memberikan pernyataan. 

Mereka mengatakan kalau tindakan tersebut sangatlah tidak etis. Tentu saja mereka mengklaim kalau aktifitas itu melanggar atas EU Habitats Directive.

Baca Juga: KPK Deteksi Modus Pegawai Pajak Akali Gratifikasi, Punya Saham di Perusahaan Konsultan Pajak

Perburuan tersebut juga disoroti mereka, karena waktunya yang bertepatan dengan musim kawin singkat Kucing Lynx. Hal tersebut dianggap akan membuat buruk situasi populasi hewan itu.

Mereka mengatakan, kalau keanekaragaman genetik kucing Lynx begitu sangat rendah. Hewan ini mungkin saja punahtak tersisa di watu 30 tahun ke depan. (*/Masnurdiansyah)

Load More