SuaraCianjur.Id- Kesehatan mental adalah salah satu aspek yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia.
Kesehatan mental yang baik akan membantu seseorang untuk merasa bahagia, produktif, dan mampu berkontribusi secara positif pada lingkungan sekitarnya.
Namun, lingkungan kerja yang buruk dapat memberikan dampak yang signifikan pada kesehatan mental seseorang.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA), sebanyak 60% pekerja di Amerika Serikat mengalami stres akibat lingkungan kerja yang buruk.
Hal ini dapat memicu terjadinya masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, insomnia, dan bahkan bunuh diri.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Michael Marmot dalam bukunya "The Status Syndrome: How Social Standing Affects Our Health and Longevity" juga menemukan bahwa lingkungan kerja yang rendah dalam hal status sosial dan ekonomi dapat memberikan dampak yang buruk pada kesehatan mental seseorang.
Ia menemukan bahwa pekerja dengan posisi rendah cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan dengan pekerja dengan posisi yang lebih tinggi.
Dalam jurnal yang diterbitkan oleh International Journal of Occupational Medicine and Environmental Health, para peneliti menemukan bahwa stres akibat lingkungan kerja yang buruk dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan tidur.
Selain itu, lingkungan kerja yang buruk juga dapat memicu terjadinya perilaku merusak diri seperti penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.
Baca Juga: Cuma Segini Gaji Guru Honorer SMK yang Dipecat Gegara Tak Sopan saat Kritik Ridwan Kamil
Secara keseluruhan, dampak lingkungan kerja terhadap kesehatan mental dapat sangat signifikan.
Lingkungan kerja yang buruk dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan bahkan bunuh diri.
Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi kesehatan mental para pekerja. (*)
(*/Haekal)
Sumber: Beberapa Jurnal
American Psychological Association. (2017). Work and well-being survey.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
-
Habib Rizieq Shihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
-
Kepulangan Jenazah Praka Farizal dari Lebanon ke Kulon Progo Diestimasikan Tiba Jumat Lusa
-
Update Tarif Listrik per kWh April 2026, Apakah Ada Kenaikan Harga?
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
Terkini
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Hasil Drawing Piala Dunia 2026: Irak Nyemplung ke Grup Neraka Bareng Prancis dan Norwegia
-
Kabar Gembira! Jalan Rusak Menuju Seko Mulai Diperbaiki Pakai Anggaran Ini
-
Pengamat: Penjatahan BBM Subsidi Masih Wajar dan Efektif Tekan Konsumsi Energi
-
Trading itu Judi? Belajar di Buku Paham Forex untuk Pemula dari Nol
-
Dugaan Kuasa Hukum Soal Kasus Andrie Yunus: Operasi Intelijen Libatkan 16 Orang
-
Harga Stabil Rp4.500, PGN Dorong BBG Jadi Opsi Ekonomis Bagi Kendaraan
-
Paus Leo XIV: Yesus Tolak Doa Orang Pemicu Perang
-
Fantasy Life: Romansa Canggung Orang-orang yang Kehilangan Arah Hidup
-
Indonesia-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan, Dorong Investasi Karbon