SUARA CIANJUR - Plt. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Mahfud MD, menyampaikan keyakinannya bahwa gelaran Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 di Indonesia akan berlangsung dengan damai.
Menurutnya, suasana politik menjelang pemilu saat ini tidak sepanas tahun-tahun sebelumnya, seperti yang diberitakan oleh media.
Pernyataan tersebut disampaikan Mahfud dalam acara Peluncuran Literasi Digital Sektor Pemerintahan kepada Prajurit TNI di Markas Besar (Mabes) TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Selasa (13/6/2023).
Mengutip dari laman Warta Ekonomi, "Tadi saya bicara dengan Pak Panglima, situasi sekarang kondusif karena ini banyak yang ngomong, ini akan ada perang, akan ada ini, panas. Saya bilang 'ndak'," kata Mahfud dalam arahannya.
Ia menjelaskan bahwa Pemilu tahun 2019 telah memanas tiga tahun sebelum pelaksanaannya.
Mahfud mengingatkan bahwa pada tanggal 4 November 2016, terjadi pengepungan di Istana yang kemudian diikuti oleh aksi-aksi lainnya.
"Empat November 2016 yang mengepung Istana, kemudian disusul dengan gelombang-gelombang berikutnya dengan konflik pesan sara, perang sara, rasis, politik identitas, dan berpuncak lahirnya, kumpul di Monas yang itu kemudian melahirkan peristiwa 212, yang kemudian melahirkan alumni 212, lalu Pemilu tahun 2019," paparnya.
Dibandingkan dengan Pemilu saat ini, Mahfud menyebut bahwa situasinya relatif lebih aman.
Terlebih lagi, menurutnya, penyelenggaraan pemilu hanya tinggal delapan bulan lagi.
Baca Juga: 4 Rekomendasi Destinasi Wisata Bali, Cocok Untuk Liburan Sekolah
"Dulu tiga tahun sudah panas, sekarang tinggal 8 bulan aman. Ini ya medsos saja yang ramai (panas), di bawah ndak ada apa-apa," katanya.
Selaku Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud juga meminta agar aparat TNI-POLRI tetap bersikap netral hingga pemilu selesai dilaksanakan.
Ia juga mengharapkan agar aparat keamanan melindungi ruang digital dari provokator di media massa.
"Insyaallah ini akan aman. Posisi netral (TNI-POLRI), terutama di dalam menjaga lalu lintas digital yang banyak memprovokasi di tengah-tengah masyarakat yang secara didigatal terliterasi, tinggat literasinya rendah," pungkasnya. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Lailatulqadar di Tahun 2026: Saatnya 'Shutdown' Gadget demi Koneksi Langit
-
Maarten Paes Curhat ke Media Belanda, Ungkap Alasan Debutnya di Timnas Indonesia Terasa Campur Aduk
-
Promo Sirup dan Biskuit Kaleng di Superindo Edisi Lebaran, Marjan hingga Khong Guan Diskon Besar
-
Orang Tua, Hati-Hati! Ada Kartun Tak Senonoh Berseliweran di YouTube Short dan Instagram
-
Nasib Kaharingan: Agama Asli Dayak yang Terancam Hilang oleh Aturan
-
Cara Akses Layanan Administrasi BPJS Kesehatan Saat Libur Lebaran
-
Persaingan Lini Belakang Timnas Indonesia: Elkan Baggott Bersaing dengan Para Senior Kelas Kakap
-
24 Ide Ucapan Idulfitri yang Puitis tapi Tidak Kaku untuk WhatsApp
-
Harga Laptop Diprediksi Melonjak 40 Persen Tahun Ini, TrendForce Soroti Krisis RAM
-
BPOM Temukan 56 Ribu Produk Pangan Bermasalah Jelang Ramadan dan Idul Fitri