/
Selasa, 13 September 2022 | 13:40 WIB
Foto profil Hacker Bjorka. (Istimewa)

Deli.Suara.com - Hacker Bjorka tengah menjadi perbincangan publik di tanah air, karena aksinya yang terus menerus melancarkan 'serangan' ke pemerintah Indonesia, dengan membocorkan data pribadi sejumlah pejabat.

Nama Bjorka sendiri cukup asing di telinga masyarakat Indonesia, oleh sebab itu kuat dugaan peretas Bjorka ini berasal atau berdomisili dari luar negeri. 

Meski ada juga dugaan, kalau Bjorka merupakan warga Indonesia yang memakai nama itu hanya sebagai kamuflase.

Setelah ditelusuri, arti nama Bjorka sendiri merupakan nama yang berasal dari bahasa Swedia. Secara harfiah, Bjorka memiliki arti pohon birch, tanaman yang terkenal di Eropa karena warna kulit yang putih.

Nama Bjorka merupakan bentuk maskulin yang biasanya disematkan kepada anak laki-laki, dengan sifat berani, cekatan, cerdas, dan pandai berbicara.

Selain disematkan kepada anak laki-laki, nama Bjorka juga bisa diberikan kepada anak perempuan dengan sebutan Bjork. Varian lain dari nama Bjorka yakni Bjorkha, Bjorcka, dan Bjorck.

Identitas peretas Bjorka ini sendiri masih menjadi misteri. Pemerintah Indonesia sampai membentuk tim khusus untuk memburunya.

Peretas Bjorka tidak henti-hentinya melakukan "serangan" terhadap pemerintah Indonesia. Meski akun Twitternya sudah ditangguhkan, Bjorka  terus beraksi membocorkan data-data pribadi pejabat negara.

Sabtu (10/9/2022) Bjorka mengklaim data berukuran 40 MB itu berisi 679.180 dokumen, data-data tersebut dirampas per September 2022.

Baca Juga: Pria yang Cekcok dengan Pak RT Ternyata Bukan Polisi, Mahfud: Image Publik Terhadap Polri Negatif

Jika benar, maka data-data tersebut akan termasuk dokumen dari pemerintahan Presiden Joko Widodo, termasuk yang sifatnya rahasia

"Berisi surat transaksi juga dokumen yang dikirim ke Presiden, termasuk kumpulan surat yang dikirim Badan Intelijen Negara yang berlabel rahasia," tulis Bjorka dalam postingannya di forum online Breached.co.

Sebelumnya Bjorka telah membuat pemerintah kerepotan dengan mengungkap kebocoran data kartu SIM Indonesia yang berjumlah miliaran.

Data pengguna Indihome, pelanggan PLN, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan beberapa perusahaan lainnya. Ia menjual data-data tersebut di forum peretas online dengan harga beragam.

Load More