/
Kamis, 22 September 2022 | 17:44 WIB
Ilustrasi resesi ekonomi global. (Istimewa)

Deli.Suara.com - Ekonomi global tengah bergejolak, dengan potensi lebih suram jika seandainya perang Rusia-Ukraina masih terus berkecamuk nantinya. 

Ekonom Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin menyampaikan kalau gejolak ekonomi tersebut tidak dapat dihindarkan.

"Dan faktanya bunga perbankan yang naik jelas akan memberikan tekanan pada dunia usaha, karena biaya modal mengalami kenaikan," ujarnya.

Kondisi ini, kata Gunawan, membuat ekspansi perusahaan melambat sehingga kurang bisa diharapkan dalam menyerap angkatan tenaga kerja.

Nah apa artinya resesi global bagi perekonomian Sumut? Dan apa dampak dari kebijakan suku bunga tinggi yang terjadi belakangan ini terhadap ekonomi Sumut?

"Selama bulan September ini, harga CPO dunia mengalami tekanan cukup signifikan. Harga CPO saat ini berada dikisaran 3.840 ringgit per ton. Padahal di bulan Mei 2022 harga CPO sempat menyentuh 7 ribuan ringgit per tonnya. Harga CPO sudah terpangkas hampir 50% sejauh ini," ujarnya.

Dan yang menjadi pemicu penurunannya adalah ancaman resesi di sejumah negara tujuan ekspor CPO Sumut seperti Amerika Serikat dan Eropa. Ditambah lagi melambatnya pertumbuhan ekonomi di China. 

"Ada penurunan kinerja ekspor mencapai 50% di bulan Mei. Dan saat ini harga CPO yang terpangkas 50% dibandingkan dengan harga tertinggi di bulan Mei," katanya.

"Jadi ancaman resesi global tengah menghantui ekonomi Sumut sejauh ini. Disisi lain, suku bunga acuan juga sudah dinaikkan, ini membuat dunia usaha dimana pun khususnya di Sumut akan terbebani dengan biaya modal yang kian tinggi," sambungnya.

Baca Juga: Lihat Dua Siswi Cover Lagu Iwan Fals, Liriknya Sindir Ferdy Sambo: 'Lihatlah Di Sana Polisi Tembak Polisi'

Lantas upaya apa yang bisa Sumut lakukan? Gunawan berharap banyak pada pemerintah pusat maupun daerah untuk terus berupaya agar semua proyek yang mengandalkan APBN dan APBD bisa diserap secepat mungkin. 

"Rancangan pembangunan ke depan harus berorientasi pada menjaga ketahanan pangan dibandingkan infrastruktur, dan harus ada alokasi kebijakan bantalan sosial yang lebih besar untuk menjaga daya beli masyarakat," ungkapnya.

Gunawan mengatakan skala prioritas ada di ketahanan pangan dan daya beli masyarakat. 

"Karena suka tidak suka, siap tidak siap, ancaman resesi global yang terjadi saat ini akan datang ke wilayah Sumut. Kita tidak bisa menghindarinya, yang kita bisa lakukan adalah bersiap dengan segala kemungkinan terburuk yang akan datang," pungkasnya.

Load More