/
Senin, 03 Oktober 2022 | 19:50 WIB
PSMS Medan saat bertanding dalam laga Liga 2. (Istimewa)

Deli.Suara.com - Kompetisi Liga 2 resmi dihentikan sementara waktu, dampak tragedi Kanjuruhan yang merenggut nyawa seratusan orang usai pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam kemarin.

Keputusan penghentian Liga 2 ini tertuang dalam nomor Nomor:584/LIB-KOM/X/2022, perihal pemberitahuan penundaan kompetisi Liga 2-2022/2023. Surat ini ditandatangani oleh Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru Akhmad Hadian Lukita, Senin (3/10/2022).

Dalam isi suratnya disebutkan bahwa kompetisi Liga 2 dihentikan selama dua pekan.

"Sehubungan dengan rujukan tersebut diatas, bersama ini perkenankanlah PT. Liga Indonesia Baru (PT. LIB) menyampaikan pemberitahuan bahwa kompetisi Liga 2-2022/2023 DITUNDA selama 2 (dua) pekan dan perkembangan selanjutnya menunggu kebijakan otoritas Pemerintah melalui PSSI," demikian isi surat tersebut.

"Selanjutnya, PT. LIB akan terus melakukan komunikasi dan koordinasi kepada Klub peserta Liga 2-2022/2023 dan segala perkembangan akan diinformasikan pada kesempatan pertama," sambungnya.

Keputusan penundaan kompetisi Liga 2 ini menyusul Liga 1 yang terlebih dahulu ditunda, buntut tragedi Kanjuruhan di Malang.

Sebelumnya, diberitakan sebanyak 127 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pascapertandingan antara Arema FC vs Persebaya Surabaya.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nico Afinta dalam jumpa pers di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu, menyebutkan dua dari 127 orang yang meninggal dunia tersebut merupakan anggota Polri.

"Dalam kejadian itu, telah meninggal 127 orang; dua diantaranya adalah anggota Polri," kata Nico di Malang.

Baca Juga: Tragis Mahasiswi UMSU Meninggal Usai Lakalantas di Marelan

Dia menjelaskan sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan, sementara sisanya meninggal dunia saat mendapatkan pertolongan di sejumlah rumah sakit setempat.

Menurut Nico, sesungguhnya, pertandingan di Stadion Kanjuruhan awalnya berjalan dengan lancar. Namun, setelah permainan berakhir, sejumlah pendukung Arema FC merasa kecewa dan beberapa di antara mereka turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial.

Petugas pengamanan kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak turun ke lapangan dan mengejar pemain. Dalam prosesnya, akhirnya petugas melakukan tembakan gas air mata.

Menurutnya, penembakan gas air mata tersebut dilakukan karena para pendukung tim berjuluk Singo Edan yang tidak puas dan turun ke lapangan itu telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.

"Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen," katanya.

Load More