Deli.suara.com - Sudah lama musik masuk ke dalam ranah kesehatan. Menurut penelitian, musik bisa digunakan untuk terapi berbagai penyakit. Saat ini sendiri, musik masih terus digunakan untuk terapi kesehatan. Khususnya manfaat terapi musik untuk penyembuhan gejala gangguan saraf dan jiwa seperti depresi, demensia dan skizofrenia.
Dilansir dalam laman Healthline, terapi musik di sini bisa berupa mendengarkan musik, bernyanyi, menggerakkan badan sesuai irama musik, meditasi menggunakan iringan musik, hingga memainkan alat-alat musik.
Terapi musik sendiri sudah digunakan oleh masyarakat Yunani kuno. Pada waktu itu, musik digunakan untuk menyembuhkan gangguan mental atau kejiwaan.
Berikut beberapa manfaat musik untuk terapi kesehatan, di antaranya adalah untuk pemulihan pasca stroke.
1. Untuk Meredakan Nyeri
Merunut sejarah, musik juga sering digunakan untuk mendorong atau membangkitkan semangat dan mood para tentara yang akan turun ke medan perang.
Menurut sebuah makalah dalam Journal of Advanced Nursing, mendengarkan musik dapat mengurangi rasa sakit yang kronis dari berbagai kondisi, termasuk osteoarthritis, masalah sendi, dan rheumatoid arthritis hingga 21%, dan depresi hingga 25%.
Terapi musik banyak digunakan untuk mengurangi nyeri pasca operasi, melahirkan, dan juga untuk melengkapi penggunaan anestesi selama operasi.
2. Menurunkan tekanan darah
Mendengarkan musik yang dapat merelaksasi tubuh setiap pagi dan sore akan membuat orang yang memiliki hipertensi menurunkan tekanan darah mereka dan tetap dalam posisi rendah.
Menurut penelitian yang dilaporkan pada pertemuan American Society of Hypertension di New Orleans, mendengarkan musik klasik atau musik lain yang menenangkan selama 30 menit setiap hari secara teratur dapat menurunkan tekanan darah tinggi.
3. Menyehatkan jantung
Musik sangat baik untuk jantung Anda. Penelitian menunjukkan bahwa hal yang berpengaruh adalah tempo musik, bukan genrenya.
Para peneliti memperhatikan perubahan detak jantung anak-anak muda ketika mendengarkan 6 gaya musik yang berbeda. Dan hasilnya adalah ketika mereka mendengarkan musik dengan tempo cepat, detak jantung mereka juga menjadi semakin cepat, begitu pun sebaliknya.
Jadi, suka atau tidak Anda terhadap musik tertentu tidak berpengaruh terhadap detak jantung Anda. Tempo atau kecepatan musiklah yang memiliki efek terbesar pada relaksasi jantung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Terkini
-
Viral Kasus Pelecehan Seksual Konsumen Paylater, Kredivo Putus Kerja Sama Debt Collector
-
Shin Tae-yong Maklumi Persija Kalah di Laga Perdana Piala Presiden 2026
-
Industri Kreatif Bergeser, Strategi Kampanye Tak Lagi Cukup
-
Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran 'Orang Jokowi' di Balik Mundurnya Gubernur BI
-
RI Lobi AS Agar Sawit Bebas Tarif Section 301, Airlangga: Kami Minta Dikecualikan
-
KPK Periksa SF Hariyanto, Eks Ketua KPID Riau hingga Anggota Dewan
-
Teka-teki Kematian Sutrimo, DPR Minta Polisi Tak Sisakan Spekulasi
-
Ketimpangan Relasi Kerja: Mengapa Loyalitas Hanya Berlaku Satu Arah?
-
Perahu Mahasiswa KKN Terbalik di Muratara, Begini Kronologi hingga Satu Korban Hilang
-
Pemuda Sinjai Merantau Demi Biayai Adik, Tewas Dikeroyok Massa