/
Minggu, 09 Juli 2023 | 22:49 WIB
Potret Jakarta International Stadium (JIS) ((Instagram/@dkijakarta))

Keinginan pemerintah untuk melakukan renovasi beberapa titik di Stadion Jakarta International Stadium (JIS) menjadi panas jelang penyelenggaraan Piala Dunia U-17. Padahal, JIS salah satu venue yang akan disodorkan ke FIFA untuk penyelenggaraan pertandingan pada ajang bergengsi dunia di level usia.

Perdebatan politis mengenai Stadion JIS kian menghangat lantaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono serta Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyatakan Stadion JIS tidak standar FIFA. Basuki saat itu menyoroti akses JIS yang dinilai tidak layak untuk melakukan pertandingan dengan jumlah kapasitas full.

Ia menilai akses yang hanya satu pintu ini belum memadai dan cenderung membahayakan. Karena itu, ia berencana menambah lagi lima jalur keluar-masuk.

"Menurut saya, ini bahaya ya. Securitynya, apalagi di lingkungan penduduk. Jadi akan ditambah lima akses lagi," katanya usai melakukan inspeksi.

Sontak hal tersebut kemudian mendapat cibiran dari Juru Bicara Capres Anies Baswedan, Surya Tjandra. Ia menjelaskan bahwa pembangunan JIS sepenuhnya dilakukan tenaga kerja anak bangsa dengan dibantu konsultan Buro Happold yang juga membangun Tottenham Hotspurs Stadium, di Inggris. Karena itu desain JIS tentu mengikuti standar dan FIFA Stadium Guideline yang juga digunakan di Tottenham Hotspurs Stadium.

Mengenai fasilitas parkir yang menjadi catatan JIS, Surya menegaskan bahwa FIFA stadium guideline tidak menyebut batas minimal parkir yang harus disediakan. Arahan umumnya adalah penggunaan transportasi publik dan modal split.

"JIS sendiri saat ini memiliki 1.200 parkir yang diprioritaskan untuk tim, penonton dengan disabilitas, VVIP dan undangan khusus. JIS juga didukung kantong parkir yang berada di area sekitar, seperti RS Sulianto Saroso, Kemayoran dan Ancol,” kata Surya.

Menurut Surya pemerintah perlu segera berhenti melakukan politisasi terhadap JIS. Ia menegaskan sikap politisasi JIS tidak hanya bertentangan dengan akal sehat, tetapi juga potensi penghamburan keuangan negara. 

"Jangan sampai hanya karena syahwat kekuasaan yang berlebihan, kita merusak demokrasi dan terutama mendiskreditkan karya anak bangsa sendiri," tulis Surya.

Baca Juga: Pembangunan Stadion JIS Beneran Jadi Skandal, Buro Happold Klarifikasi Tidak Pernah Diminta Mendesain JIS Hingga Konstruksi

Meski begitu, baru-baru ini, Buro Happold menyampaikan klarifikasi tertulis. Dalam keterangannya, tertulis bahwa mereka diminta Jakarta Konsultindo (Jakkon) untuk membuat panduan desain (design guidelines) serta memberikan jasa konsultasi, mulai Desember 2018 hingga Maret 2019. 

Adapun lingkup pekerjaan mencakup persiapan pembuatan panduan desain (preparation of concept design guide), penilaian untuk soal teknis dan komersial (technical and commercial assessment), konsep rencana induk untuk area di sekitar stadion (concept masterplan for the surrounding area), serta peta jalan implementasi proyek (implementation roadmap). 

"Selama masa pembuatan panduan itu, perusahaan memastikan agar desain seluruh aspek yang berkaitan dengan standar FIFA terpenuhi," tulisnya.

Setelah rangkaian pekerjaan tersebut selesai, Buro Happold diminta untuk meninjau konsep desain yang dipersiapkan oleh pihak lain, yang dalam hal ini adalah konsultan yang ditunjuk Jakkon. 

"Hasil tinjauan perusahaan mengidentifikasi beberapa aspek yang ternyata tidak sesuai dengan panduan konsep desain orisinal dari Buro Happold. Temuan ini telah disampaikan oleh Buro Happold dalam surat terpisah," tulisnya.

Dalam akhir surat, Buro Happold menegaskan, pihaknya merasa perlu untuk memberikan penjelasan lebih detil di laman resmi perusahaan mengenai ruang lingkup pekerjaan
dalam Proyek JIS guna menghindari kesalahan informasi dan persepsi. 

Load More