- Rupiah melemah ke Rp16.876 per dolar AS akibat sentimen negatif domestik.
- Moody's turunkan peringkat RI dan IHSG di-downgrade oleh Goldman Sachs & UBS.
- Target ekonomi 2025 gagal tercapai, rupiah diprediksi di level Rp16.800-Rp16.900.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih belum mampu keluar dari tekanan hebat. Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (6/2/2026), Mata Uang Garuda kembali terkulai lemas di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Bloomberg, rupiah bertengger di level Rp16.876 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,20 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya, Kamis (5/2), yang berada di level Rp16.842. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia dipatok di level Rp16.826.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pelemahan ini bukan sekadar faktor global, melainkan murni imbas dari sentimen negatif di dalam negeri. Salah satu pemicu utamanya adalah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kabar buruk dari lembaga pemeringkat internasional.
"Pelemahan rupiah disebabkan pelemahan IHSG dan penurunan peringkat dari Moody’s," ujar Lukman saat dihubungi.
Ia menambahkan, pasar saat ini tengah diselimuti awan mendung akibat sejumlah masalah domestik yang bertubi-tubi, antara lain langkah Goldman Sachs (GS) dan UBS yang menurunkan peringkat IHSG ke posisi underweight, potensi penurunan status pasar Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Frontier Market oleh MSCI dan sentimen negatif seputar defisit fiskal dan target pertumbuhan ekonomi 2025 yang meleset dari target.
"Rupiah diperkirakan masih akan tertekan dan bergerak di rentang Rp16.800 hingga Rp16.900," jelasnya.
Di kawasan Asia, rupiah tidak sendirian di zona merah. Namun, Rupee India mencatatkan performa terburuk dengan anjlok 0,46 persen, disusul Won Korea Selatan yang ambles 0,39 persen.
Berikut pergerakan mata uang Asia sore ini:
Melemah: Rupee India (-0,46%), Won Korsel (-0,39%), Rupiah (-0,20%), Dolar Taiwan (-0,04%), Yuan China (-0,03%).
Baca Juga: Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa RI Anjlok Rp32 Triliun
Menguat: Baht Thailand (+0.37%), Peso Filipina (+0,21%), Dolar Singapura (+0,11%), Yen Jepang (+0,11%), Ringgit Malaysia (+0,01%).
Kombinasi antara gagalnya target pertumbuhan ekonomi dan prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) membuat investor cenderung berhati-hati melirik aset-aset berbasis rupiah untuk sementara waktu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
Pilihan
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
Terkini
-
Jangan Lupa! Besok Pasar Saham RI Kembali Dibuka, IHSG Diproyeksi Anjlok
-
Gegara Selat Hormuz Tutup, Harga BBM di AS Tembus Rp 68.000
-
BRILink Agen Bukukan Transaksi Rp1.746 Triliun: Bukti BRI Percepat Inklusi Keuangan Nasional
-
Aturan Baru Purbaya: Jatim Jadi Provinsi Terbanyak Dapat Jatah Hasil Cukai Tembakau
-
Ekonomi India Mulai Terpukul, Konflik Timur Tengah Bikin Aktivitas Bisnis Melambat
-
7.131 Bus Ditemukan Tak Layak Jalan Saat Mudik Lebaran
-
Arus Balik Lebaran, KAI Catat 253 Ribu Kursi Masih Tersedia hingga Awal April
-
Arus Balik Mulai Padat, Jumlah Penumpang Kereta ke Jakarta Lampaui Keberangkatan
-
Perang di Timteng Memanas Bikin Premi Asuransi Meningkat
-
Arus Balik Mulai Menggeliat, Penumpang Bakauheni Tembus 91 Ribu di H+1 Lebaran