Yuni Mauliza kini terpaksa harus meninggalkan impian menikahi pasangannya, Imam Masykur, yang berusia 25 tahun.
Imam sendiri berasal dari Desa Mon Keulayu, di Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Aceh. Tragisnya, dia menjadi korban penculikan, penganiayaan dan pembunuhan anggota Paspampres dan dua anggota TNI.
Padahal, Imam yang bekerja di sebuah toko kosmetik di Rempoa, Tangerang Selatan, rencananya bakal mempersunting Yuni Mauliza.
Lantas seperti apakah profil Yuni Mauliza?
Tak banyak yang tahu bahwa Yuni Mauliza bukan sosok sembarangan. Ia pun menyampaikan betapa hancur hatinya karena kehilangan Imam.
Peristiwa tragis ini berawal saat Imam ditemukan tak bernyawa di Sungai Cibogo, Karawang, Jawa Barat pada tanggal 18 Agustus 2023. Tunangan Yuni itu diculik dan dianiaya, enam hari sebelum ditemukan sudah tak bernyawa.
Melalui media sosial TikTok, Yuni menyampaikan perasaannya: "Selamat pergi, sayang. Surga kini menunggumu. Tuhan lebih mencintaimu. Kini, kamu berada di tempat yang lebih baik, di mana tak ada lagi penderitaan. Kami berharap adanya keadilan."
Dalam wawancara, diketahui bahwa Yuni dan Imam sebenarnya berencana untuk menikah pada bulan Oktober mendatang.
Menurut informasi dari Mukhtar, saudara ipar Imam, hubungan keduanya telah berjalan selama kira-kira enam bulan. Keduanya berasal dari desa yang sama.
Baca Juga: Siap Tayang Besok Siang, Ini Link Nonton Sekaligus Sinopsis One Piece Live Action
Menariknya, Yuni Mauliza sedang melanjutkan studinya di Universitas Al Muslim Peusangan Bireuen. Dia juga terdaftar sebagai calon legislatif dari Partai Demokrat di Bireuen dengan nomor urut 5.
Kepergian Imam tentu membuat Yuni sangat terpukul. Apalagi ia mengetahui fakta bahwa calon pendamping hidupnya itu mengalami penderitaan saat diculik oleh Praka RM dan beberapa rekannya.
Seorang kerabat, Said Sulaiman, mengatakan bahwa keluarga dan Yuni menemukan kondisi jasad Imam dalam keadaan yang memprihatinkan.
Saat ini, Yuni menanti keadilan dan hukuman setimpal bagi pelaku, yakni Praka RM.
Panglima TNI, Laksamana Yudo Margono, juga telah meminta agar tiga pelaku dijatuhi hukuman maksilam, yakni hukuman mati.
Berita Terkait
-
5 Fakta Yuni Mauliza: Tunangan Imam Masykur yang Diculik Paspampres, Bukan Orang Sembarangan
-
Apa Motif Penganiayaan dan Pembunuhan Imam Masykur oleh Oknum Paspampres?
-
Pemuda Aceh Tewas usai Diculik Anggota Paspampres, Jeritan Korban saat Disiksa Bikin Merinding
-
Masih Bungkam, Deddy Corbuzier Ditantang Undang Ortu Korban Oknum Paspampers ke Podcastnya
-
Ini Deretan Kasus Kekerasan oleh Paspampres, Gibran Sampai Ikut Turun Tangan
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- 5 Sepeda Lipat yang Ringan Digowes dan Ngebut di Tanjakan
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
Tok! OJK Bekukan Izin Underwriter UOB Kay Hian Sekuritas, Buntut Skandal IPO REAL
-
Sempat Dikira Kain Popok, Begini Cerita Fatmawati Saat Pertama Kali Terima Bahan Bendera Pusaka
-
Pekerja BRI Insurance Galang Dana Mandiri demi Bencana Sumatra
-
Liam Rosenior Tuduh Arsenal Tak Hormati Chelsea, Mikel Arteta Bantah Keras
-
Mensos Gus Ipul: Digitalisasi Bansos Signifikan Tekan Kesalahan Data
-
Kemensos Rehabilitasi 7 PMI Korban TPPO di Turki
-
Sulis Jadi Simbol Perempuan Muslim Berdaya Fatayat NU
-
WN China Tersangka Kasus Tambang Emas Kabur, Ditangkap Imigrasi di Entikong
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
Soroti Kematian Bocah SD di NTT, Hasto PDIP: Bangunlah Jiwanya, Tapi Anak Tak Bisa Beli Pena