Suara Denpasar - Rajah Dasabayu ternyata memiliki dua versi. Yakni versi Nusantara dan versi Tibet. Menurut akun Facebook@Tantra Satra, adanya dua versi ini mengauatkan pandangan bahwa Nusantara memiliki pengaruh yang kuat terhadap tradisi di Tibet.
Apalagi ratusan tahun silam, Atisha Dipankara ditugaskan mensistematisasi tradisi spiritual Tibet oleh gurunya, Rsi Dharmakirti, pendiri universitas Buddha Tantra terbesar di Swarnadwipa (Sumatra) kala itu.
Hingga kini Dasabayu dilakoni dalam praktik-praktik tantrik yang bersumber dari naskah-naskah kuno bernuansa kawisesan, kadyatmikan, tutur, dan tattwa.
Sebut saja lontar Tutur Sanghyang Aji Sangkya, yang menjelaskan dengan sangat baik bahwa Dasabayu adalah 10 prana (bayu) yang berdiam di tubuh dengan rincian seperti dikutip Denpasar.suara.com dari akun Facebook@Tantra Sastra.
1. PRANABAYU, berdiam di jantung (papusuhan), memenuhi dada, leher, alis, dan kening. Pranabayu tersebar menjadi beberapa bagian, dan prana ini disebut bayu urip sebab ia yang mengatur semua bayu sehingga kita bisa hidup.
2. UDHANABAYU, berdiam di ubun-ubun dan yang mengatur seluruh lubang (song) di kepala. Aliran udhanabayu terbagi menjadi 65 aliran bayu yang memberikan energi pada semua nadi.
3. SAMANABAYU, bertempat di langit-langit mulut dan menyebar ke tiga nadi utama (trinadhi), lalu terpecah menjadi 72 aliran bayu. Bayu ini yang menghubungkan organ tubuh satu dengan organ tubuh lainnya.
4. APANABAYU, berdiam di alat kelamin. Bayu ini menampung sari makanan dan minuman sehingga sarinya menjadi air mani (onjas), ampasnya menjadi kencing dan kotoran. Apanabayu terpecah menjadi 50 bayu dan menghubungkan medan energi jantung dengan jejaring perut.
5. BIANABAYU, berdiam di persendian sehingga tubuh bisa bergerak sedemikian rupa. Bayu ini terpecah menjadi 50 bayu dan membuat pusat hati memancarkan gelombang elektromagnetik yang dahsyat. Bayu ini juga yang mengatur hidup dan mati seseorang.
Baca Juga: Jadi Buron, Frederik-Helda Praperadilkan Penyidik Satreskrim Polresta Denpasar
6. NAGABAYU, berdiam di pangkal lidah. Bayu ini terpecah menjadi 60 bayu dan menyebabkan pusat saraf di pangkal leher bisa bekerja sedemikian rupa dan menyebar ke paru-paru sehingga paru-paru dapat mengembang dan mengempis.
7. KURMARABAYU, berdiam di mata dan menggerakkan kelopak mata. Bayu ini terpecah menjadi 70 bayu. Bayu ini juga terhubung dengan usus dan lambung sehingga keduanya bisa menampung semua makanan dan membuang ampasnya melalui anus.
8. KARAKARABAYU, bertempat di hidung dan terpecah menjadi 80 bayu. Bayu ini yang menyebabkan bersin dan hidung mampu membaui. Bayu ini juga terhubung dengan limpa.
9. DEWADATABAYU, bertempat di seluruh otot dan terpecah menjadi 90 bayu. Bayu ini juga yang memberikan kekuatan pada kerongkongan (ineban).
10. DANANJAYABAYU, berdiam di kulit dan terpecah menjadi 1.000 bayu. Bayu ini yang menyebabkan badan terurai ketika sudah ditinggalkan oleh jiwa setelah kematian.
Sepuluh bayu tersebut harus diolah dengan napas, dan tidak akan aktif secara optimal sebelum kita mahir mengolah napas melalui Dasaksara, sebab Dasabayu terlahir dari Dasaksara.
Bahkan salah satu lontar kawisesan menyebutkan bahwa Dasaksara adalah Dasabayu. Setelah mengolah Dasaksara, ada proses nyurupang (meleburkan) Dasaksara menjadi 10 wijaksara (benih aksara) yang terangkai menjadi rajah Dasabayu dan dibaca: ONG IAKASAMARALAWAYAUNG.
Ketika kita tekun mengolah Dasabayu melalui napas, maka Sanghyang Dasabayu akan bertutur: ONG (dengung semesta sebagai kesadaran Sunya/Suwung), I (idhêp, spirit, jiwa), AKASA (ruang tanpa batas), MARA (kemurnian), LAWA (pintu), YA (yukti/sejati), UNG (tirtha amerta kehidupan). Arti sederhananya:
"Kesadaran Suwung yang berdiam di akasa idhêp, yang murni dan tanpa batas, di sana pintu tempat mengalirnya tirtha amerta kehidupan sebagai sari prana/bayu. Jiwa sejati akan terlepas dari pintu itu sesuai kehendaknya."
Demikian Tantra Satra mengulas tentang Dasabayu pada tubuh manusia. Semoga bermanfaat. ***
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
Terkini
-
Indeks CFX10 Melambung Tinggi ke Level 917,67, Ethreum Lagi Naik Daun
-
MBG Tetap Dibagikan Meski Siswa Pekanbaru Diliburkan Imbas Asap Karhutla
-
167 Bangunan Hangus, Ini 4 Tahap Skenario Pemerintah Pulihkan Desa Adat Sade
-
Prabowo Ancam Cabut Izin Korporasi yang Terlibat Pembakaran Hutan untuk Buka Lahan
-
Giant Sea Wall Pantura Jawa: Solusi Banjir Rob atau Masalah Baru?
-
Rekening Donasi Demo Diblokir, Dosen UGM: Tindakan Abusif Penguasa dan Melawan Hukum
-
Pramono Anung Buka Suara Soal Tarif Parkir Rp60 Ribu/Jam di Jakarta
-
Gelombang Laut Selatan DIY Bisa Capai 4 Meter, Nelayan dan Wisatawan Diminta Waspada
-
3 Rice Cooker Murah nan Imut yang Wajib Dimiliki Anak Kos, Daya Cuma 200 Watt!
-
Dari Lasagna Kimpul hingga Cheesecake Ubi: Modernisasi Pangan Lokal Agar Tak Sekadar Alternatif