/
Sabtu, 12 November 2022 | 19:32 WIB
Kang Dedi Mulyadi di acara ketahanan pangan di Desa Benteng, Purwakarta. (Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel)

Suara Denpasar – Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi alias Kang Dedi mengklaim tanahnya diserobot. Dia pun meminta Rp3 miliar untuk satu hektare tanah yang dipakai. Uang itu cukup untuk kawin. Perusahaan pertanian pun bingung ketika diminta uang sebesar itu oleh Kang Dedi.

Hal itu terjadi saat ada kegiatan Demplot Ketahanan Pangan Bios 44 di Desa Benteng, Kecamatan Campaka, Purwakarta, yang diunggah dalam Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, Jumat (11/11/2022). Kegiatan ini merupakan Kerjasama antara perusahaan pertanian bernama PT Abang Ijo Raharja dengan Kodim 0619/ Purwakarta.

Begitu tiba di lokasi, Kang Dedi langsung mencari penyelenggara. Dia mempertanyakan penyelenggara menggarap tanah siapa. Si penyelenggara mengatakan, ini adalah tanah Pak Suteja. 

“Ini batasannya ngambil tanah saya sebagian. Bukan haknya kok diambil,” kata Kang Dedi memasang tampang galak.

Penyelenggara pun bingung. Kang Dedi minta kepala desa Benteng dipanggil. 

“Kalau garap tanah tuh lihat dulu dong batasannya. Jangan tanah punya orang diambil,” ucap Kang Dedi.

Akhirnya datang Kepala Desa Benteng Tuti Herlina Aulia. Kang Dedi bilang proyek ini mengambil tanahnya sebagian. Dia menanyakan apakah pihak desa diajak mengukur tanah.

“Ini tanah saya sebagian keambil satu hektare. Lumayan dijual pakai kawin cukup tahu gak?” kata Kang Dedi ke kades Benteng.

“Sudah ada calonnya, Pak?” tanya balik Bu Kades.

Baca Juga: Denny Darko, Jokowi Punya Cucu Laki-laki dari Kaesang-Erina: Erina Bukan Pelarian

Mendapat pertanyaan demikian, Kang Dedi pun minta Bu Kades ini serius. Dia menanyakan apakah kades tahu batas-batas tanahnya. Dijawab tidak tahu, Kang Dedi pun minta agar Bu Kades harus tahu.

“Kepala desa itu jangan ngurus lipstick ama bedak aja, Bu,” kata Kang Dedi.

Akhirnya datang Agung, penyelenggara program ini. Dia mengaku sudah mengukur. Namun, Kang Dedi mencecar siapa yang mengukur, apakah pihak desa dilibatkan. Diakui tidak ada pelibatan desa. 

Pihak penyelenggara akhirnya minta dibicarakan lagi. Kang Dedi tidak mau. Dia mau langsung hitung-hitungan. Dia minta Rp300 ribu per meter persegi. Sehingga Rp3 miliar untuk 1 hektare.

“Ayo, gimana. Mau saya laporkan ke polisi, penyerobotan tanah?” gertak Kang Dedi.

“Tanah yang mana dulu ini,” tanya Agung.

Load More