Suara Denpasar- Dedi Mulyadi merasa tersinggung karena lukisan miliknya yang banyak menampilkan tokoh-tokoh besar seperti tokoh Nahdlatul Ulama' (NU) serta para pahlawan diletakan sembarang di depan gedung kembar Purwakarta.
Hal ini bermula dari sikap Pemkab Purwakarta yang mengambil alih aset pemerintah berupa gedung kembar yang selama ini ditempati Dedi Mulyadi untuk berkantor.
Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika sebelumnya menyebut jika gedung kembar itu ditempati secara ilegal selama empat tahun.
Karena itu Pemkab kata Anne Ratna Mustika kembali mengambil alih gedung kembar dan akan digunakan sebagai kantor salahsatu OPD di lingkup Pemkab Purwakarta.
Pasca pernyataan itu, tidak berselang lama semua lukisan di dalam gedung koleksi Dedi Mulyadi sudah dilepas dan ditempatkan di luar gedung.
Lukisan-lukisan itu banyak menampilkan para pahlawan serta tokoh karismatik, seperti tokoh pendiri NU Hasyim As'ari, kemudian Buya Hamka, Sukarno, Mbah Maridjan dan sejumlah tokoh Indonesia lainnya.
Kang Dedi pun kemudian mengangkut satu persatu lukisan yang disebut penuh sejarah tersebut.
Saat lukisan bergambar Hasyim Asari berada di luar gedung kembar, Kang Dedi Mulyadi pun merasa tersinggung.
Dia menilai siapapun yang meletakkan lukisan itu sembarangan di luar gedung adalah sebagai orang yang tidak paham sejarah.
Baca Juga: Akun WhatsApp di HP Kini Juga Bisa Dipakai Barengan di Tablet, Ini Caranya
"Ini orang kalau gak menghargai, gak ngerti sejarah hanya menjadikan NU sebagai sesuatu yang saya.. sudahlah gak usah diceritain. Jadi kalau gak ngerti sejarah, orang bilang mencintai NU, orang bilang jamaah NU, orang bilang membutuhkan NU, ya hanya politik?," katanya kesal seperti yang dia unggah di akun Kang Dedi Mulyadi Channel dikutip pada Sabtu (3/12).
"Kalau mencintai NU gak mencintai ini (lukisan Hasyi As'ari) ya bohong, mencintai NU berarti mencintai Hasyim Asari, gimana sih diletakkan di luar sembarangan saja, harusnya gak boleh diletakkan sembarangan saja, Buya Hamka, Hasyim As'ari, kita orang NU," jelasnya.
Tampak juga lukisan dari Sukarno, kemudian lukisan dari Suharto, kemudian BJ Habibie dan sejumlah toko besar lainnya di Indonesia. ***
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau
-
Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara
-
Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus
-
BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah
-
Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026
-
BNI Perkuat Akses Hunian Masyarakat Lewat Akad Massal 62.710 KPR Rumah Subsidi
-
Leo/Daniel Jadikan Gelar Juara Taipei Open 2026 Sebagai Kado Ultah
-
Anak Petani Banyumas Raih Predikat Lulusan Terbaik IPDN, Presiden Sematkan Tanda Pangkat
-
Gantung Sepatu Demi Keluarga, Eks Sprinter Asian Games Comeback di Lintasan Aspal
-
Belajar dari Kerja Praktik: Coding Terbaik Adalah yang Mampu Menyelesaikan Masalah Nyata