/
Sabtu, 10 Desember 2022 | 08:20 WIB
Kang Dedi Mulyadi dan Yessi (Youtube)

Suara Denpasar - Kisah viral pasangan gagal menikah karena mahar sertifikat rumah masih menjadi perbincangan publik, hal ini juga tak lepas dari perhatian Kang Dedi Mulyadi sebagai tokoh masyarakat di Purwakarta.

Diketahui pasangan yang viral, Ryan Dono dan Yessi berasal dari Purwakarta.

Setelah sebelumnya mengundang Ryan Dono, Kang Dedi Mulyadi kini mendatangkan pihak Yessi.

Di kesempatan itu, mantan Bupati Purwakarta ini menanyakan awal mula terjadinya rencana pernikahan kepada Ibu Yessi yang akhirnya berujung dengan konflik.

Ibu Yessi mengatakan pihaknya tak menyangka jika kedatangan keluarga Ryan Dono adalah sebuah lamaran untuk meminang putrinya ke jenjang pernikahan. Dari sanalah permasalahan mulai muncul satu per satu.

Menurut Kang Dedi, bagi setiap orang tua memang melepas anak perempuan ini adalah momen yang sakral.

“Saya itu selalu sedih kalau membicarakan pernikahan anak perempuan ini setelah punya Ni Hyang Ayu,” katanya, seperti dikutip dari Kanal YouTube Dedi Mulyadi, Sabtu (10/12/2022).

Tak ingin memperdalam permasalahan, Dedi Mulyadi pun mencoba untuk menghindari pembicaraan yang bisa memperpanjang konflik.

Seperti diketahui, kisah Yessi dan Ryan Dono menyedot banyak perhatian setelah viral di TikTok.

Baca Juga: Puluhan Transpuan Jogja Mencoba Berdaya Lewat Jogja Incusion Art Festival

Keduanya batal menikah di H-3 pernikahan setelah permintaan mahar sertifikat rumah dari Yessi, sementara itu persiapan pernikahan sudah matang.

Puncaknya, Yessi dan Ryan Dono tak bisa bersanding di gelaran resepsi pernikahan dan dua keluarga terlibat konflik.

Kepada Kang Dedi Mulyadi, Yessi pun mengatakan memiliki harapan agar kedua keluarga bisa dipertemukan supaya permasalahan tidak semakin melebar.

“Harapannya ya sebenarnya pengen ketemu gitu pak, antara dua keluarga ini supaya tidak kemana-mana juga permasalahannya,” kata Yessi.

“Jadi keinginannya adalah kedua keluarga ini bertemu kemudian sudah tidak ada lagi konflik dan tidak ada media sosial yang menggoreng ini terus menjadi konflik. Dan tidak ada lagi orang yang wawancara-wawancara mengadu dombakan?” tanya Kang Dedi. (Rizal/*)

Load More